
Sebelumnya akan dijelaskan sekilas tentang Sejarah Kalimantan selatan , Kalimantan Selatan pada zaman dahulu merupakan bagian dari 3 kerajaan besar yang pernah secara berturut-turut memiliki wilayah di daerah ini, yaitu Kerajaan Negara Dipa, kemudian oleh Kerajaan Negara Daha dan diteruskan oleh Kesultanan Banjar. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Kalimantan selatan dijadikan provinsi tersendiri dengan gubernur pertama Gubernur Ir. Pangeran Muhammad Noor yang menjabat sampai dibuatnya Perjanjian Linggarjati.
Bahasa yang digunakan dalam keseharian oleh suku Banjar sebagai bahasa ibu dan sebagai lingua franca bagi masyarakat Kalimantan Selatan umumnya adalah bahasa banjar yang memiliki dua dialek besar, yakni dialek Banjar Kuala dan dialek Banjar Hulu. Suku Dayak yang mendiami kawasan selatan Pegunungan Meratus menuturkan bahasa Dayak Meratus ( bahasa Bukit ) Bahasa Banjar dan bahasa Bukit, keduanya merupakan bahasa melayu .
Suku Dayak ada bermacam-macam dan Memiliki bahasa yang berbeda-beda pula sesuai dengan letak bagiannya masing-masing, ada Suku Dayak rumpun Dusmala atau Dusun Maanyan Lawangan yang menggunakan bahasa Barito Timur yang mendiami kawasan utara Pegunungan Meratus yang menggunakan bahasa Dayak Maanyan Warukin, bahasa Dayak Dusun Halong, bahasa Dayak Samihin (Dusun adil/desa batuah), bahasa Dayak Deah/Dusun Deyah, bahasa Dayak Lawangan dan bahasa Dayak Abal.
Berikut akan dijelaskan terlebih dahulu apa sih itu suku Dayak?
Suku Dayak adalah salah satu suku asli Kalimantan yang mana diantara mereka masih memiliki keyakinan bahwa percaya dengan adanya leluhur dan kebudayaan yang masih sangat melekat pada diri mereka. Misalnya saja Dayak Kalimantan tengah atau yang sering disebut Dayak Maanyan , ada Dayak dari Kalimantan barat atau yang kerap disebut Dayak kanayatn ,Dayak Kalimantan timur yang memiliki nama lain yaitu Dayak paser dan Dayak Kalimantan selatan yang juga kerap disebut Dayak meratus, namun Dayak meratus masih mempunyai banyak bagian salah satunya yaitu Dayak semihim yang mempunyai tradisi upacara adat yang masih eksis hingga sekarang.
Nah, berikut akan diceritakan bagaimana rentetatan acara dari awal hingga selesai acara upacara adat Dayak semihim yaitu upacara adat yang disebut dengan“Bawadai“.
Bawadai adalah salah satu tradisi adat Budaya asli Dayak,terutama dayak samihim yang bertempat di Daerah Batuah,kabupaten Kotabaru,provinsi Kalimantan selatan. Dimana acara ini hanya diselenggarakan setiap satu tahun sekali setelah selesai panen padi,dan hasil dari panen padi tersebut tidak boleh dimakan atau dimasak sebelum melakukan acara upacara adat ini,dan biasanya keluarga dari yang melakukan acara upacara ini akan mengumpulkan Beras ketan untuk persembahan dan juga untuk bahan pembutan Dodol,Lamang dan persembahan lainnya. Dimana proses ini dilakukan secara turun-temurun dari zaman dahulu sampai sekarang . Dan orang di Dayak semihim menyebut manesfestasi tuhan dengan sebutan Shang Hyang Tunggal atau nining bhatara. Keyakinan dan kepercayaan Dayak semihin terhadap leluhur sangat kuat .
Dalam pelaksanaan Upacara adat (Bawadai) ini juga dilengkapi dengan beberapa Sesajen yang dihaturkan untuk para leluhur sebagai ucapan terimakasih atas diberikan kesehatan jasmani dan rohani.
Upacara adat( bawadai) biasanya membutuhkan persiapan atau waktu yang lama seperti kita mencari kayu bakar dua minggu sebelum upacara tersebut diselenggaran agar kayu bakar tersebut bisa kering dan mudah dimakan api untuk membuat bara,kerana itu Sebelum sampai pada puncak acara atau hari H-nya biasa banyak persiapan yang dilakukan seperti persiapan Tutu pucuk (Pembuatan sesajen seperti dari dedaunan,janur,dll),mencari bambu secukupnya,setelah selesai itu baru akan dilakukan pembutan kerangka-kerangka dari bambu (sanggar) yang dihiasi dengan janur-janur serta dedaun lainnya.
Nah, di hari-H atau dihari puncak nya akan diadakan masak-masak besar seperti memasak lamang ( beras Ketan yang di masukan dalam bambu dan di kukus di bara api) dan pembuatan Dodol (Beras ketan yang di masukan kedalam wajan besar yang dicampur dengan santan kelapa,gula merah dan diajak hingga menjadi padat) dan ada juga pembuatan kue yang berbentuk binatang ,manusia,dan tumbuhan dimana hal tersebut melambangkan betapa banyak makhluk hidup di dunia.
Jangan salah, pembuatan seperti lamang dan dodol mempunyai arti dan makna . yang pertama itu adalah dodol itu mempunyai makna bahwa dodol itu dibuat dengan banyak warna sehingga itu dianggap sebagai melambangkan alam semesta sedangkan lamang atau lemang lamak manis itu melambangkan kebaikan leluhur yang telah memberikan perlindungan, mengapa lamang tersebut dikatakan sebagai ungkapan terimakasih pada leluhur karena di dalam pembuatan lamang ini ini di lengkapi dengan garam , santan , gula , lalu menyatu menjadi satu.
Hingga pada malam hari semua yang telah di buat pada siang hari tersebuat akan di hanturkan kepada leluhur oleh balian (tokoh adat yang ada di daerah tersebut),dimana itu membutuhkan waktu hingga pagi untuk memberikan persembahan tersebut. Setelah semua nya selesai maka makanan tersebut boleh dimakan seperti lamang,dodol dll. Pada malam ini balian akan membacakan mantra atau doa kepada leluhur selama semalam penuh.
Dan pada pagi harinya , setelah semua selesai dihaturkan pada malam harinya, maka proses acara akan dilanjutkan dengan mengahaturkan sesajen disungai yang bertujuan sebagai ucapan terimakasih kepada manisfestasi leluhur yang ada disungai, agar kita diberikan keselamatan dan perlindungan.
Setelah itu, juga diadakan jiarah ke kuburan para tetua di daerah tersebut , karena Dayak semihin mempercayai bahwa para tetua yang telah meninggal tersebut juga yang melindungi daerah tersebut.
Kemudian sore harinya, kembali menghaturkan sesajen ke tempat goa keramat yang dipercayai karena di goa tersebut terdapat mata air. Dan konon katanya goa ini merupakan tempat pertapaan orang-orang suci dahulu kala, dan goa tersebut itu sebagai tempat untuk memohon akan tetapi itu kembali pada kepercayaan masing- masing.
Biasanya seseorang yang melakukan upacara adat (bawadai ) tidak boleh berpergian jauh dan tidak boleh bekerja, karena itu adalah sebagian pantangan atau larangan dari upacara adat (bawadai) tersebut. Pantangan tersebut biasanya berlaku selama tiga hari dan selepas tiga hari tesebut baru boleh beraktifitas seperti biasa.
Setelah tiga hari itu, ada proses yang disebut dengan “Simpu talam “ yang mana pada pada saat itu para orang-orang yang melaksanakan acara bawadai tersebut membersihkan dan merapikan kembali Barang-barang sakral yang digunakan dalam pelaksanaan acara upacara tersebut,dan pada acara simpu talam ini para sanak keluarga yang melaksanakan acara adat ini biasanya akan berbagi beras ketan yang masih bersisa setelah dipersembahkan.
Dan, jika sebelum pelaksaan upacara adat ini ada kerabat keluarga yang meninggal, maka upacara ini tidak akan diadakan secara besar-besaran dan hanya diadakan secara sederhana saja , dikarena masih dalam keadaan yang berduka. Tetapi pada tahun selanjutnya akan diadakan seperti biasanya.
jadi, itu tadi penjelesan dan pemaparan dari upacara adat dayak samihim kalimantan selatan , dan masih banyak lagi tradisi dayak samihim yang masih tersembunyi dan bersifat magis ( sakral ) sehingga tidak dapat di publikasikan.
Referensi :
https://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Selatan
Oleh : Salman & Hawita
















