Upacara Adat Dayak Semihim Kalimantan selatan yaitu Upacara adat “Bawadai”

 

kota-banjarmasin-kalimantan-selatan

          Sebelumnya akan dijelaskan sekilas tentang Sejarah Kalimantan selatan , Kalimantan Selatan pada zaman dahulu merupakan bagian dari 3 kerajaan besar yang pernah secara berturut-turut memiliki wilayah di daerah ini, yaitu Kerajaan Negara Dipa, kemudian oleh Kerajaan Negara Daha dan diteruskan oleh Kesultanan Banjar. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Kalimantan selatan dijadikan provinsi tersendiri dengan gubernur pertama Gubernur Ir. Pangeran Muhammad Noor yang menjabat sampai dibuatnya Perjanjian Linggarjati.

         Bahasa yang digunakan dalam keseharian oleh suku Banjar sebagai bahasa ibu dan sebagai lingua franca bagi masyarakat Kalimantan Selatan umumnya adalah bahasa banjar yang memiliki dua dialek besar, yakni dialek Banjar Kuala dan dialek Banjar Hulu. Suku Dayak yang mendiami kawasan selatan Pegunungan Meratus menuturkan bahasa Dayak Meratus ( bahasa Bukit ) Bahasa Banjar dan bahasa Bukit, keduanya merupakan bahasa melayu .

      Suku Dayak ada bermacam-macam dan Memiliki bahasa yang berbeda-beda pula sesuai dengan letak bagiannya masing-masing, ada Suku Dayak rumpun Dusmala atau Dusun Maanyan Lawangan yang menggunakan bahasa Barito Timur yang mendiami kawasan utara Pegunungan Meratus yang menggunakan bahasa Dayak Maanyan Warukin, bahasa Dayak Dusun Halong, bahasa Dayak Samihin (Dusun adil/desa batuah), bahasa Dayak Deah/Dusun Deyah, bahasa Dayak Lawangan dan bahasa Dayak Abal.

              Berikut akan dijelaskan terlebih dahulu apa sih itu suku Dayak?

      537-pekan_gawai_dayak_kalimantan_barat_kaskus           Suku Dayak adalah salah satu suku  asli Kalimantan yang mana diantara mereka masih memiliki keyakinan bahwa percaya dengan adanya leluhur dan kebudayaan yang masih sangat melekat pada diri mereka. Misalnya saja Dayak Kalimantan tengah atau yang sering disebut Dayak Maanyan , ada Dayak dari Kalimantan barat atau yang kerap disebut Dayak kanayatn ,Dayak Kalimantan timur yang memiliki nama lain yaitu Dayak paser dan Dayak Kalimantan selatan yang juga kerap disebut Dayak meratus, namun Dayak meratus masih mempunyai banyak bagian salah satunya yaitu Dayak semihim yang mempunyai tradisi upacara adat yang masih eksis hingga sekarang.

           Nah, berikut akan diceritakan bagaimana rentetatan acara dari awal hingga selesai acara upacara adat Dayak semihim yaitu upacara adat yang disebut dengan“Bawadai“.

        IMG-20181207-WA0026 Bawadai adalah salah satu tradisi adat Budaya asli Dayak,terutama dayak samihim yang bertempat di Daerah Batuah,kabupaten Kotabaru,provinsi Kalimantan selatan. Dimana acara ini hanya diselenggarakan setiap satu tahun sekali setelah selesai panen padi,dan hasil dari panen padi tersebut tidak boleh dimakan atau dimasak sebelum melakukan acara upacara adat ini,dan biasanya keluarga dari yang melakukan acara upacara ini akan mengumpulkan Beras ketan untuk persembahan dan juga untuk bahan pembutan Dodol,Lamang dan persembahan lainnya. Dimana proses ini dilakukan secara turun-temurun dari zaman dahulu sampai sekarang . Dan orang di Dayak semihim menyebut manesfestasi tuhan dengan sebutan Shang Hyang Tunggal atau nining bhatara. Keyakinan dan kepercayaan Dayak semihin terhadap leluhur sangat kuat .

              Dalam pelaksanaan Upacara adat (Bawadai) ini juga dilengkapi dengan beberapa Sesajen yang dihaturkan untuk para leluhur sebagai ucapan terimakasih atas diberikan kesehatan jasmani dan rohani.

             Upacara adat( bawadai) biasanya membutuhkan persiapan atau waktu yang lama seperti kita mencari kayu bakar dua minggu sebelum upacara tersebut diselenggaran agar kayu bakar tersebut bisa kering dan mudah dimakan api untuk membuat bara,kerana  itu Sebelum sampai pada puncak acara atau hari H-nya biasa banyak persiapan yang dilakukan seperti persiapan Tutu pucuk (Pembuatan sesajen seperti dari dedaunan,janur,dll),mencari bambu secukupnya,setelah selesai itu  baru akan dilakukan pembutan kerangka-kerangka dari bambu (sanggar) yang dihiasi dengan janur-janur serta dedaun lainnya.

         Nah, di hari-H atau dihari puncak nya akan diadakan masak-masak besar seperti memasak lamang ( beras Ketan yang di masukan dalam bambu dan di kukus di bara api) dan pembuatan Dodol (Beras ketan yang di masukan kedalam wajan besar yang dicampur dengan santan kelapa,gula merah dan diajak hingga menjadi padat) dan ada juga pembuatan kue yang berbentuk binatang ,manusia,dan tumbuhan  dimana hal tersebut melambangkan betapa banyak makhluk hidup di dunia.

        Jangan salah, pembuatan seperti lamang dan dodol mempunyai arti dan makna . yang pertama itu adalah dodol itu mempunyai makna bahwa dodol itu dibuat dengan banyak warna sehingga itu dianggap sebagai melambangkan alam semesta sedangkan lamang atau lemang lamak manis itu melambangkan kebaikan leluhur yang telah memberikan perlindungan, mengapa lamang tersebut dikatakan sebagai ungkapan terimakasih pada leluhur karena di dalam pembuatan lamang ini ini di lengkapi dengan garam , santan ,  gula , lalu menyatu menjadi satu.

           Hingga pada malam hari semua yang telah di buat pada siang hari tersebuat akan di hanturkan kepada leluhur oleh balian (tokoh adat yang ada di daerah tersebut),dimana itu membutuhkan waktu hingga pagi untuk memberikan persembahan tersebut. Setelah semua nya selesai maka makanan tersebut boleh dimakan seperti lamang,dodol dll. Pada malam ini balian akan membacakan mantra atau doa kepada leluhur selama semalam penuh.

      IMG_20180723_100633           Dan pada pagi harinya , setelah semua selesai dihaturkan pada malam harinya, maka proses acara akan dilanjutkan dengan mengahaturkan sesajen disungai yang bertujuan sebagai ucapan terimakasih kepada manisfestasi leluhur yang ada disungai, agar kita diberikan keselamatan dan perlindungan.

           Setelah itu, juga diadakan jiarah ke kuburan para tetua di daerah tersebut , karena Dayak semihin mempercayai bahwa para tetua yang telah meninggal tersebut juga yang melindungi daerah tersebut.

        Kemudian sore harinya, kembali menghaturkan sesajen ke tempat goa keramat yang dipercayai karena di goa tersebut terdapat mata air. Dan konon katanya goa ini merupakan tempat pertapaan orang-orang suci dahulu kala, dan goa tersebut itu sebagai tempat untuk memohon akan tetapi itu kembali pada kepercayaan masing- masing.

       Biasanya seseorang yang melakukan upacara adat (bawadai ) tidak boleh berpergian jauh dan tidak boleh bekerja, karena itu adalah sebagian pantangan atau larangan dari upacara adat (bawadai) tersebut. Pantangan tersebut biasanya berlaku selama tiga hari dan selepas tiga hari tesebut baru boleh beraktifitas seperti biasa.

            Setelah tiga hari itu, ada proses yang disebut dengan “Simpu talam “ yang mana pada pada saat itu  para orang-orang yang melaksanakan acara bawadai tersebut membersihkan dan merapikan kembali Barang-barang sakral yang digunakan dalam pelaksanaan acara upacara tersebut,dan pada acara simpu talam ini para sanak keluarga yang melaksanakan acara adat ini biasanya akan berbagi beras ketan yang masih bersisa setelah dipersembahkan.

        Dan,  jika  sebelum pelaksaan upacara adat ini ada kerabat keluarga yang meninggal, maka upacara ini tidak akan diadakan secara besar-besaran dan hanya diadakan secara sederhana saja , dikarena masih dalam keadaan yang berduka. Tetapi pada tahun selanjutnya akan diadakan seperti biasanya.

        jadi, itu tadi penjelesan dan pemaparan dari upacara adat dayak samihim kalimantan selatan , dan masih banyak lagi tradisi dayak samihim yang masih tersembunyi  dan bersifat magis ( sakral ) sehingga tidak dapat di publikasikan.

 

Referensi :

https://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Selatan

https://www.google.co.id/url?sa=i&source=images&cd=&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwjDq63b7pXfAhVUWX0KHc3cAKEQjRx6BAgBEAU&url=http%3A%2F%2Fwww.getborneo.com%2Fbanjarmasin-kota-seribu-sungai%2F&psig=AOvVaw3mHliUEVVzkY2YdFC82a6j&ust=1544551997990697

https://www.google.co.id/url?sa=i&source=images&cd=&ved=2ahUKEwj6gqD7v5bfAhUENI8KHdEeAAwQjRx6BAgBEAU&url=http%3A%2F%2Fwww.netralnews.com%2Fnews%2Frsn%2Fread%2F76999%2Fmengenal-pekan-gawai-dayak-sebagai-aset-budaya-nasional&psig=AOvVaw3KjK6JOGnp1eQwmlwaSIk7&ust=1544573790178493

 

 

 

 

Oleh : Salman & Hawita

 

 

 

 

Erat Kaitannya Tradisi Megibung dalam Nilai-Nilai Pancasila

IMG-20181208-WA0018
Tradisi Megibung Ngis Tista, Kabupaten Karangasem

     Di era globalisasi ini, dalam kehidupan masyarakat cenderung mulai tidak peduli terhadap orang lain melainkan mementingkan diri sendiri. Terdapat salah satu faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi yaitu faktor keluarga. Pada saat ini sangat jarang bisa berkumpul (menyama braya) dengan keluarga maupun dengan sanak saudara karena sibuk bekerja maupun kepentingan lainnya. Hal ini menyebabkan semakin menumbuhkan rasa acuh tak acuh satu sama lain. Akibatnya perilaku sosial seperti saling tolong menolong, gotong royong, rasa persaudaraan akan memudar dengan sendirinya. Persaudaraan akan terkesan langka dan mahal. Untuk menghilangkan kekhawatiran tersebut, salah satu caranya adalah dengan melakukan kegiatan “Megibung”. Megibung merupakan tradisi yang dimiliki oleh warga Karangasem, yang terletak di ujung timur Pulau Dewata.

     Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), Tradisi adalah adat kebiasaan turun-temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan di masyarakat. Tradisi berasal dari kata “traditium” yang artinya segala sesuatu yang diwarisi oleh nenek moyang kita di masa lalu. Tradisi merupakan sesuatu yang telah dilakukan sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, seperti adat, kebiasaan, dan juga kepercayaan.

    Tradisi megibung mulai ada sejak tahun 1614 Caka (1692 Masehi). Pada zaman pemerintahan I Gusti Anglurah Ketut Karangasem, Raja VII Karangasem yang merupakan putra bungsu atau anak ketiga dari Raja I Gusti Anglurah Made Karangasem Sakti. Ketika Raja Karangasem berperang menaklukan kerajaan-kerajaan di Sasak (Lombok), beliau membuat aturan kepada prajuritnya pada saat istirahat makan. Aturan tersebut adalah untuk makan bersama dalam satu wadah, dengan posisi duduk bersila dan melingkar atau biasanya dikenal dengan Megibung. Bahkan, Raja pun ikut makan bersama dengan prajuritnya.

    Megibung berasal dari kata “Gibung” yang diberi imbuhan me. Gibung artinya kegiatan saling berbagi antara satu orang dengan yang lainnya. Jadi megibung merupakan kegiatan yang dilakukan oleh banyak orang untuk makan bersama dalam satu wadah dengan cara lesehan dan duduk melingkar.

     Tradisi megibung digelar pada upacara Panca Yajna yaitu  Dewa Yajna, Pitra Yajna, Rsi  Yajna, Manusa Yajna, dan Bhuta Yajna. Biasanya pada upacara, nelubulanin (kandungan berumur 3 bulan), pagedong-gedongan (kandungan berumur tujuh bulan). Saat bayi lahir ada upacara rare wawu embas (bayi lahir), kepus pungset (lepasnya ari-ari), tugtug kambuhan (bayi umut 42 hari), nigangsasihin/nyambutin (bayi umur 3 bulan), mapetik (mencukur rambut pertama kali), otonan (bayi berumur 1 oton), tumbuh untu (tumbuh gigi), maketus (gigi tanggal pertama), rajasinga dan rajasewala (laki-laki/perempuan meningkat dewasa), matatah/mepandes (potong gigi), dan pawiwahan (perkawinan).

     Dalam upacara panca yajna tradisi megibung di lakukan setelah melalui kegiatan “Mebat”. Mebat adalah  memasak mengunakan bahan-bahan khusus untuk upacara sakral, dimana laki-laki Bali berkumpul untuk belajar dan mengajarkan cara memasak. Pada upacara sakral, yang dimasak adalah lawar, sayur blimbing, gegecok, ares, urutan, sate asem, dan sate lembat/sate lilit. Masakan tersebut digunakan sebagai hidangan untuk megibung. Setelah Mebat ini selesai barulah tradisi Megibung dimulai.

IMG-20181208-WA0017
Menu tradisi Megibung

    Pada zaman dahulu satu sela (kelompok) harus terdiri dari 8 orang yang  melambangkan  dewata nawa sanga. Dewata Nawa Sanga adalah Sembilan penjuru  mata angin yaitu Utara (Dewa Wisnu), Timur Laut (Dewa Sambu), Timur (Dewa Iswara), Tenggara (Dewa Maheswara), Selatan (Dewa Brahman), Barat Daya (Dewa Rudra), Barat (Dewa Mahadewa), Barat Laut (Dewa Sangkara), dan Tengah (Dewa Siwa). Dan sekarang sudah mengalami perubahan dalam satu sela bisa terdiri menjadi 5-8 orang, agar duduk lebih nyaman dan tidak berdesakan.

     Keunikan dari tradisi megibung tersebut adalah lanang (laki-laki) megibung bersama lanang. Sedangkan yang istri (perempuan) megibung bersama istri. Dalam tradisi Megibung tidak ada perbedaan kasta atau catur warna (golongan Brahmana, ksatrya, wasya, dan sudra). Megibung tak harus dengan orang-orang yang dikenal. Tradisi Megibung juga memiliki makna tersendiri yaitu kebersamaan, saling berbagi, saling menghargai, dan meningkatkan persatuan dan kesatuan. Dengan keunikan dan makna yang dimiliki dalam tradisi Megibung ini, bisa menarik para wisatawan untuk ikut serta dalam tradisi Megibung yaitu makan bersama-sama untuk menciptakan rasa persaudaraan.

Dalam pelaksanaan tradisi megibung sebenarnya ada aturan yang banyak orang belum ketahui, terutama orang dari luar Karangasem. Yaitu :

  1. Sebelum megibung krama harus mencuci tangan dengan air bersih, lalu duduk bersila.
  2. Orang paling tua berhak membagikan makanan pada saat megibung berlangsung.
  3. Pada saat megibung tidak boleh mengambil makanan disebelah kita, karena dalam megibung kita makan bersama dalam satu wadah harus bisa menjaga sopan santun.
  4. Jangan menjatuhkan sisa makanan yang telah kita makan di atas wadah megibung atau bisa dijatuhkan di luar.
  5. Pada saat membagikan sate atau daging yang sulit dibagi jangan menggunakan mulut, gunakanlah tangan.
  6. Pada saat megibung sayur dan lawar sebagai pembuka dan terakhir adalah sate.
  7. Tidak diperkenankan berteriak-teriak, bersin, dan berdahak pasa saat megibung.

    Ternyata dalam tradisi Megibung banyak terkandung nilai-nilai yaitu nilai persaudaraan dan juga nilai-nilai Pancasila. Nilai-nilai Pancasila dengan tradisi Megibung memiliki hubungan yang sangat erat dan juga sangat terasa nuansanya. Hubungan nilai-nilai Pancasila dengan tradisi Megibung adalah :

  1. Sila I (Ketuhanan Yang Maha Esa)

Tradisi Megibung dilaksanakan pada upacara Panca Yajna yaitu Dewa Yajna, Pitra Yajna, Rsi  Yajna, Manusa Yajna, dan Bhuta Yajna. Nilai Pancasila yang terkandung dalam Sila ke I yaitu nilai ketuhanan.

2. Sila II (Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab)

Dalam tradisi megibung tidak mengenal kasta atau catur warna, karena dalam tradisi Megibung tidak harus dengan orang yang dikenal. Nilai Pancasila yang terkandung dalam Sila ke II yaitu nilai kemanusiaan.

  1. Sila III (Persatuan Indonesia)

Megibung harus ada rasa kebersamaan dalam menghabiskan makanan tersebut dan juga dengan menyatukan semua perbedaan-perbedaan krama (masyarakat). Nilai Pancasila yang terkandung dalam Sila ke III yaitu nilai kebersamaan.

  1. Sila IV (Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmah Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan)

Dalam tradisi Megibung ada aturan yang tidak boleh dilarang yaitu yang duluan habis tidak boleh meninggalkan tempat sampai krama (masyarakat) menyatakan sudah boleh bangun dan meninggalkan tempat, baru boleh meninggalkan tempat megibung tersebut. Nilai Pancasila yang terkandung dalam Sila ke IV yaitu nilai  kebijaksanaan dan kemusyawaratan di dalam masyarakat.

  1. Sila V (Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia)

Dalam tradisi Megibung makanan yang disiapkan semua sama, jumlah satu sela (kelompok) juga harus sama, dan selesai megibung juga sama. Nilai Pancasila yang terkandung dalam Sila ke V yaitu nilai keadilan.

     Kita sebagai generasi muda penyelamat kekayaan bangsa harus melestarikan tradisi Megibung sebagai warisan nenek moyang atau leluhur kita. Karena tradisi Megibung memiliki filosofi yaitu menanamkan pola kebersamaan, persaudaraan, gotong royong, keadilan, persatuan, demokrasi, kemanusian, dan ketuhanan dalam kehidupan bermasyarakat. “Keep Bali’s Traditional Family Meal”.

Referensi

Simanjutak, Bungaran Antonius. 2016. Tradisi, Agama, dan Akseptasi Modernisasi pada Masyarakat Pedesaan Jawa. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Bayu Permana, I Nyoman. 2013. Megibung dalam Pemertahanan Tradisi Adat dan Budaya di Desa Adat Kemoning Kecamatan Klungkung Kabupaten Klungkung dilihat dari Dimensi Nilai Moral Pancasila. Singaraja.

Ni Nengah Sutamiati dan Putu Gede Putra Wira Sucahya

 

 

“Mandi Lumpur ala Desa Kedonganan”

mandi lumpur 1

Bali mempunyai daya tarik tersendiri untuk dikunjungi dan sangat banyak ciri khas bahkan kelebihan yang dimiliki oleh Bali. Banyak destinasi menarik yang dapat dikunjungi wisatawan seperti Tanah Lot, Tampak Siring, Besakih, Lempuyang, Ubud, dan masih banyak lagi. Selain destinasi wisatanya para wisatawan asing maupun lokal harus mengenal dan memahami kebudayaan yang ada di Bali, Selain objek wisata yang ada, tersebar dari ujung barat hingga timur, Pulau Bali ternyata juga memiliki banyak tradisi dan budaya yang merupakan warisan para leluhurnya dan sejumlah tradisi tersebutpun masih bertahan sampai saat ini. Menjadi tujuan wisata dunia, tentunya banyak pengaruh-pengaruh luar yang masuk ke Bali, dan itu menjadi tantangan juga bagaimana Bali masih bisa bertahan dengan budaya dan tradisi masa lampau yang menjadi sebuah kearifan lokal. Menghormati budaya Bali juga sangat diperlukan karena di Bali hanya bias mempertunjukan Budaya yang masih sangat kental dan menjadi daya tarik tersendiri untuk para wisatawan berkunjung ke Bali.

Di Bali di setiap desa atau daerah mempunyai budayanya masing-masing, seperti di Sesetan ada tradisi Omed-Omedan , di Desa Bedulu tepatnya di Pura Samuan Tiga ada tradisi Siat Sampian, di Karangasem ada tradisi Megibung, di Kabupaten Jembrana ada tradisi Makepung, dan masih banyak lagi.

Di Desa Kedonganan yang kita kenal menjadi Tempat Pelelangan Ikan (TPI) sendiri terkenal dengan sektor perikanan, di sinilah terdapat pasar ikan yang memasok ikan-ikan segar segar ke berbagai restaurant seafood di Bali, termasuk juga cafe-cafe yang menyediakan masakan ikan laut di kawasan Jimbaran dan Kedonganan juga memiliki warisan budaya berupa tradisi ataupun karya seni. Contoh Warisan Budaya berupa tradisi di Desa Kedonganan yaitu “Mebuug-buugan”.

gambar 2

Mebuug-buugan berasal dari kata “bug” yang berarti tanah atau lumpur, dan “bhu” yang berarti ada atau terwujud, sehingga berafiliasi menjadi kata “bhur” yang berarti bumi, tanah, atau pertiwi. Kotoran dalam bentuk tanah atau lumpur ini divisualisasikan sebagai wujud bhuta kala atau roh jahat yang melekat pada diri manusia yang harus dibersihkan. Dalam satu tahun pelaksanaan kegiatan kemanusiaan kita tentunya tidak terlepas dari pikiran, perbuatan, dan tata bicara kita yang kotor dan kita bersihkan dengan catur brata penyepian. Melalui tradisi ini, kotoran kita dalam bentuk tanah atau lumpur dan mebuug-buugan adalah simbol dimana kita melakukan pembersihan diri. Masyarakat desa adat Kedonganan biasanya melakukan tradisi ini sehari setelah hari raya nyepi.

Dalam lontar Siwa Sesana, juga menyebutkan Lembu Nandini sebagai wahana Dewa Siwa, yang tidak lain sebagai lambang ibu pertiwi ( Bhur ) dan lambang kesuburan. Dalam kontekstual makrokosmos ( Bhuwana Agung ) “mebuug-buugan” adalah bentuk ucapan syukur atas  Kesuburan yang telah dilimpahkan pada bumi pertiwi ( Bhuwana Agung ) sebagai tempat manusia dan semua makhluk hidup ciptaan-Nya  berkembang biak. Sangat jelas diungkapkan dalam tradisi mebuug-buugan ,hal ini dipertegas dengan lagu berikut:

‘Mentul-menceng, mentul – menceng’

‘Glendang-glendong, glendang – glendong.’

Lirik lagu yang dinyanyikan selama perjalanan tradisi mebuug-buugan ini sangat singkat dan secara umum mewakili dari makna’ Purusa dan Pradana” antara lingga dan yoni”

Sedangkan dari kontekstual mikrokosmos  dari kata “Bhu” yang berarti ada atau wujud, merupakan perwujudan badan kasar manusia ( Bhuwana Alit ) yang terbentuk dari kelima unsur Panca Maha Bhuta.  Dalam Lontar Bhumi Kawulan / Bhumi Siwagama  menguraikan ; Karena kesalahan Dewi Uma, maka Bhatara Guru mengutuk-Nya dan turun ke dunia menjadi Panca Dhurga yaitu ; Sri Dhurga, Raji Dhurga, Suksmi Dhurga, Dhari Dhurga, dan Dewi Dhurga. Sri Dhurga beryoga menciptakan Kalika-Kaliki, Yaksa-Yaksi, Bhuta Dengen. Raji Dhurga beryoga minciptakan Jin-Setan, Bragala-Bregali, Bebai dan segala jenis penyakit. Dhari Dhurga beryoga menciptakan Sang Bhuta Kapiragan, Suksmi Dhurga beryoga menciptakan Kumala-Kumali ,Sweta dan lain-lain. Dewi Dhurga beryoga menciptakan Bhuta Jangitan, Bhuta Langkir, Lembu Kere, Lembu Truna, dan Bhuta Tiga Sakti. Melihat Uma menjadi Dhurga maka Bhatara Guru  mengutuk diri-Nya sendiri menjadi Kala Rudra. Karena sentuhan Kala Rudra ini pada dewi Uma terciptalah Bhuta Kala yang memenuhi ruang waktu.

Melihat dari refrensi lontar Bhumi Kawulan / Bhumi Siwagama semua unsur baik makrokosmos ( Bhuwana Agung ) maupun mikrokosmos ( Bhuwana Alit ) yang terbentuk dari unsur – unsur Panca Maha Bhuta, diliputi dan dipenuhi oleh kekuatan Bhuta Kala yang senantiasa memenuhi ruang dan  waktu. Dalam hal ini manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan juga tidak terhindar dari kekuatan bhuta yang  memenuhi ruang dan waktu tersebut. Oleh karena itu seyogyanya umat Hindu menetralisir hal-hal atau pun sifat – sifat buruk yang berasal dari sifat sifat Panca Maha Bhuta sebagai unsure pembentuk badan kasar. Dalam hal menetralisir kekuatan / sifat – sifat buruk pada diri manusia dapat dilaksanakan dengan melakukan tapa Brata Yoga Semadi.

Korelasi mebuug – buugan dengan pelaksanaan Tapa Brata Yoga Semadi dalam rangka menetralisir kekuatan Panca Maha Bhuta ( Nyomia Bhuta ) sangat jelas terlihat dari rangkaian pelaksanaan prosesinya. Dimulai dari kegiatan upacara yang bertujuan untuk menetralisir kekuatan bhuta pada makrokosmos dengan pelaksanaan upacara menghaturkan caru Tawur Kesanga yang dipusatkan pada catus pata sebagai stana sang hyang adikala. Sedangkan pada diri manusia (mikrokosmos ), kekuatan bhuta dinetralisir dengan melaksnakan Catur Brata Penyepian yang pelaksanaannya bertepatan pada hari Raya Nyepi. Pelaksanaan Catur Brata Penyepian meliputi  Amati Geni, Amati Lelungaan, Amati karya, Amati Lelangunan. Dengan memaknai sebuah pengendalian diri / introspeksi diri ( Mulat Sarira ), kita diharapkan mampu mengendalikan segala bentuk kekuatan bhuta yang ada dalam diri manusia, sehingga kita bisa terbebaskan dari  dosa atas pikiran, dosa atas perkataan dan dosa atas perbuatan kita.

Visualisasi dari belenggu kekuatan Bhuta dan keterbebasan kita dari kekuatan Bhuta itu sendiri diwujudkan dengan mebuug – buugan. Dalam konteks “mebuug-buugan” manusia yang divisualisasikan dengan balutan gestur tanah / lumpur di maknai sebagai perwujudan Bhuta Kala atau kekotoran yang melekat dalam badan kasar manusia.

Untuk dapat menghilangkan kekuatan bhuta dalam buana alit ( badan Kasar manusia), akan dimohonkan anugrah dari kekuatan laut (Segara) yang berfungsi sebagai kekuatan penyempurnaan ( Pemarisudha ).

Zaman dulu sebelum ditemukan shampoo sebagai sabun pembersih kepala, penduduk Bali menggunakan Lumpur sebagai pengganti shampoo, mereka mempercayai lumpur memiliki kandungan yang sama seperti shampoo. Karena dulu belum tercemari oleh sampah, mungkin saja pernyataan tersebut benar, namun berbeda halnya dengan zaman sekarang yang sudah dikontaminasi oleh sampah. walaupun hal tersebut terjadi, rakyat Kedonganan tetap menggelar tradisi ini yang semestinya memang harus dilestarikan.

Setelah mereka saling melempari lumpur, mereka berbondong-bondong menuju Pantai Pemelisan. Disanalah mereka akan membersihkan diri dari lumuran lumpur yang ada di sekujur tubuhnya. Dan saat inilah Bhuana Alit bisa mereka bisa dikatakan bersih. Tradisi ini sangat diminati oleh wisatawan asing maupun lokal karena memang tidak pantangannya, seperti bermain seru-seruan di lumpur. maka dari itu banyak peserta yang tidak sabaran untuk melumuri tubuhnya dengan lumpur kemudian mandi ke pantai.

 

Oleh;

Sonia Widiastuti

Reff : https://www.balitoursclub.net/tradisi-mebuug-buugan-kedonganan/
https://www.google.com/search?q=sejarah+mebuug+buugan&safe=strict&client=firefox-b-ab&ei=zmALXN2xCpucvQS7wJuACA&start=0&sa=N&ved=0ahUKEwjd0IfvyY_fAhUbTo8KHTvgBoA4ChDy0wMIcw&biw=1366&bih=626
http://sanggarcakrabhuwana.blogspot.com/

Tradisi CIUMAN MASSAL bertajuk “Omed-omedan Cultural Heritage Festival”

 

 

foto pelukan

 

Pulau Bali merupakan Surga Dunia bagi wisatawan yang berkunjung ke Bali, dan Bali juga dikenal dengan berbagai macam slogan antara lain : Paradise Island, Thousand Temple Island, The Island of God, dan lain sebagainya. Selain slogan unik yang mampu menarik wisatawan untuk datang ke Bali, tentunya Bali juga memiliki berbagai kebudayaan yang menjadi daya tarik wisata di Bali. Beberapa kebudayaan yang sudah terkenal di Bali adalah Upacara Ngaben, Gebug Ende Seraya, Pengerebongan, Trunyan dan Mekotek. Selain kebudayaan yang telah disebutkan, ada satu kebudayaan yang sangat menarik yaitu kebudayaan omed-omedan yang terdapat di daerah Sesetan. Omed-omedan secara harfiah berarti tarik-menarik. Omed-omedan atau juga disebut Med-medan rutin digelar setiap tahun, sehari setelah hari raya Nyepi atau yang disebut sebagai hari Ngembak Geni. Konon, acara ini sudah diwariskan sejak tahun 1900-an dan hanya bisa ditemukan di Banjar Kaja Sesetan. Warga setempat meyakini, bila acara ini tak diselenggarakan, dalam satu tahun mendatang berkah Sang Dewata sulit diharapkan dan berbagai peristiwa buruk akan datang menimpa. Tradisi omed omedan itu merupakan tradisi leluhur yang sudah dilakukan sejak zaman penjajahan Belanda. Awalnya ritual ciuman massal itu dilakukan di Puri Oka. Puri Oka merupakan sebuah kerajaan kecil pada zaman penjajahan Belanda. Ceritanya, pada suatu saat konon raja Puri Oka mengalami sakit keras. Sang raja sudah mencoba berobat ke berbagai tabib tapi tak kunjung sembuh. Pada Hari Raya Nyepi, masyarakat Puri Oka menggelar permainan omed omedan. Saking antusiasnya, suasana jadi gaduh akibat acara saling rangkul para muda mudi. Raja yang saat itu sedang sakit pun marah besar. Dengan berjalan terhuyung-huyung Raja keluar dan melihat warganya yang sedang rangkul-rangkulan. Ajaibnya setelah itu Raja kembali sehat seperti sediakala. Lalu Raja mengeluarkan titah agar omed omedan harus dilaksanakan tiap Hari Raya Nyepi. Namun pemerintah Belanda yang waktu itu menjajah, gerah dengan upacara itu. Belanda pun melarang ritual permainan muda mudi tersebut. Pada tahun 1970-an tradisi omed-omedan ditiadakan, tiba-tiba ada 2 ekor babi besar berkelahi dan berdarah di tempat omed omedan biasa digelar. Menurut warga setempat itu merupakan pertanda buruk. Akhirnya Raja dan rakyat meminta petunjuk kepada leluhur. Setelah itu omed omedan dilaksanakan kembali tapi sehari setelah Hari Raya Nyepi. Sampai sekarang tradisi omed-omedan masih dipegang teguh oleh warga Banjar Kaja, Sesetan, Denpasar dan rutin diselenggarakan setiap tahun sebagai warisan turun-temurun serangkaian dengan Hari Nyepi.

foto cium paksa

Secara umum tradisi ini dikenal orang sebagai acara ’ciuman massal’ puluhan remaja putra dan putri dari Banjar Kaja yang tergabung dalam Sekaa Teruna Satya Dharma Kerthi, Banjar Kaja Sesetan. Sebelum melakukan omed-omedan, peserta terdiri dari pemuda-pemudi berusia 17-30 tahun yang menggunakan pakaian adat ringan.

Ritual-sebelum-Omed-Omedan

Sementara itu, pihak panitia akan mempersiapkan tempat yang akan digunakan sebagai ’arena’ omed-omedan yaitu jalan utama yang tepat berada di depan Bale Banjar Kaja. Dalam tradisi ini, para muda-mudi setempat dikelompokkan menjadi dua grup, yaitu grup pria (teruna) dan grup wanita (teruni). Sebelum ritual dimulai, seluruh peserta mengikuti upacara persembahyangan bersama di Pura Banjar. Melalui persembahyangan bersama ini, para peserta memohon kebersihan hati dan kelancaran dalam pelaksanaan ritual omed-omedan.

foto 2

Setelah ritual sembahyang, ditampilkan pertunjukan tari barong bangkung (barong babi) yang dimaksudkan untuk mengingat kembali peristiwa beradunya sepasang babi hutan di desa ini. Kedua kelompok ini berbaris berhadap-hadapan dengan dipandu oleh para polisi adat Bali atau yang  lebih dikenal dengan sebutan PECALANG. Kemudian, secara bergantian dipilih seorang dari masing-masing kelompok untuk diangkat dan diarak pada posisi paling depan barisan. Kedua kelompok ini kemudian saling beradu dan kedua muda-mudi yang diposisikan paling depan harus saling berpelukan satu sama lain. Saat keduanya saling berpelukan, masing-masing kelompok akan menarik kedua rekannya tersebut hingga terlepas satu sama lain. Jika kedua muda-mudi ini tidak juga dapat dilepaskan, panitia akan menyiram mereka dengan air hingga basah kuyup. Ketika pasangan muda-mudi saling bertemu dan berpelukan erat, ada kalanya mereka akan saling beradu pipi, kening, dan bahkan bibir.  Masyarakat awam dari luar banyak yang menyalahartikan hal ini sebagai saling berciuman. Ritual omed-omedan pun secara salah kaprah mendapat sebutan ritual ciuman massal dari Desa Sesetan. Di masa lalu, masyarakat Sesetan hanya memandang tradisi omed-omedan sebagai bagian dari wujud masima krama atau dharma shanti (menjalin silaturahmi) antar sesama warga. Seiring perjalanan waktu, tradisi ini ternyata menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Menyadari hal ini, masyarakat setempat kemudian mengemas tradisi omed-omedan sebagai sebuah festival warisan budaya tahunan dengan tajuk “Omed-omedan Cultural Heritage Festival” yang juga dimeriahkan dengan bazzar dan panggung pertunjukan. Dari tahun ke tahun, pengunjung festival ini terus meningkat, terlebih lagi dari kalangan penggemar fotografi yang saling berkompetisi untuk mengabadikan momentum langka tersebut sebagai objek eksplorasi mereka.

Jpeg

Penonton yang saling berdesakan menyaksikan tradisi unik ini juga tak luput dari siraman air yang dilakukan panitia acara. Hal ini dilakukan untuk menertibkan penonton yang mulai memasuki arena omed-omedan sehingga mengganggu jalannya acara. Tak jarang penonton juga basah kuyup karena terlalu dekat dengan arena. Namun, hal ini tidak terlalu dipermasalahkan karena pada dasarnya tradisi ini berlangsung dengan suasana kegembiraan dan suka cita.

Acara ini berlangsung sekitar dua jam hingga seluruh peserta mendapat kesempatan untuk melakukan omed-omedan. Untuk memeriahkan acara, juga digelar berbagai kegiatan seperti pasar rakyat, pameran ogoh-ogoh hingga panggung musik.

Tradisi ini juga berfungsi untuk menjaga keharmonisan sesuai norma yang berlaku. Juga sebagai wujud solidaritas dan persatuan masyarakat untuk saling memberi dan meminta baik dalam keadaan suka maupun duka. Dalam mempererat nyama braya bukan hanya di Banjar Kaja, tapi juga banjar-banjar lain di sekitarnya dengan turut serta dalam kegiatan ini.

Menurut Kelihan Adat Banjar Kaje, I Made Sukaja (wawancara tanggal 12 November 2014), implikasi makna dari tradisi Omed-omedan bagi masyarakat Banjar Kaje Kelurahan Sesetan Denpasar yaitu terbagi atas beberapa aspek yaitu :

  1. Religi

Kearifan lokal yang tertuang dalam upacara Tradisi Med-medan pada hakikatnya merupakan salah satu perwujudan aktivitas keagamaan dan emosi keagamaan yang dibangkitkan dengan adanya sesuhunan Ida Bhatara Petapakan yaitu Ida Ratu Ayu Mas Calonarang dan Ratu Gede Bangkal Putih di Pura Parerepan Banjar Kaja, Kelurahan Sesetan. Pura itu diyakini merupakan bangunan suci yang sakral bagi pemeluk agama Hindu di Banjar Kaja, Kelurahan Sesetan. Dalam konsep agama Hindu, berdoa atau sembahyang di tempat sakral seperti itu akan mendapatkan anugrah Ida Sang Hyang Widhi.

  1. Solidaritas

Dari segi makna solidaritas dapat dilihat yaitu masyarakat gotong royong yang menjunjung tinggi aspek kebersamaan dalam suka – duka yang sangat intens. Hampir semua tugas kemasyarakatan diselesaikan secara bersama-sama, baik aktifitas sosial, ekonomi, maupun keagamaan. Demikian juga dalam upacara Tradisi Omed-medan semua warga banjar bergotong royong bekerja menyiapkan segala sesuatu dengan pemahaman yang sama, bahwa upacara itu untuk kepentingan seluruh warga Banjar Kaje. Dengan itu maka timbul kebersamaan dan warga selalu berusaha dalam kegiatan upacara tersebut untuk selalu memupuk kerukunan dan mewujudkan integrasi sosial secara nyata.

  1. Budaya

Makna budaya bermatra budaya lokal Bali. Berbicara tentang budaya Bali asosiasi masyarakat Bali adalah filsafah Tri Hita Karana yang bernafaskan agama Hindu sebagai agama yang dianut oleh mayoritas masyarakat Bali dan sekaligus menjiwai kebudayaan Bali. Di Bali, identitas budaya hampir selalu berhubungan dengan agama, sehingga makna budaya di sini tumpang tindih dengan makna agama. Masyarakat warga Banjar Kaja, Kelurahan Sesetan telah memahami, menghayati, dan menjalankan budaya leluhur, yaitu peka terhadap saudara atau tetangganya yang tersirat dalam istilah sagilik saguluk sabayantaka.

 

  1. Kesejahteraan

Pemahaman “makna kesejahteraan” hampir sama artinya dengan sentosa dan makmur, selamat/terlepas dari segala macam gangguan. Secara keseluruhan masyarakat warga  Banjar Kaja, sampai saat ini mempercayai kesejahtraan yang mereka dapatkan tidak terlepas dari apa yang dilakukan warga yaitu berbakti terhadap Ida Bhatara Sesuhunan yang berstana di pura Parerepan dengan melaksanakan upacara omed-omedan.

 

 

Lely dan Tasya

 

Referensi

Klik untuk mengakses 129655-ID-tradisi-omed-omedan-sebagai-pendidikan-k.pdf

https://www.google.com/search?safe=strict&client=firefox-b&q=artikel+tradisi+omed+omedan&sa=X&ved=2ahUKEwiIk9TykojfAhWRiHAKHebqBvkQ1QIoA3oECAUQBA&biw=1366&bih=654

https://www.google.com/url?sa=i&rct=j&q=&esrc=s&source=images&cd=&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwiv3rimlZLfAhXFqo8KHaCdBPAQjRx6BAgBEAU&url=https%3A%2F%2Fwww.boombastis.com%2Ftradisi-omed-omedan%2F81107&psig=AOvVaw2udcZ45PIkcSBEFPYzmMDb&ust=1544423039154771

Omed-omedan, Tradisi Ciuman yang Unik di Bali

https://www.google.com/url?sa=i&rct=j&q=&esrc=s&source=images&cd=&ved=2ahUKEwiymL2vn5LfAhWMqY8KHf2hAs0QjRx6BAgBEAU&url=https%3A%2F%2Fwww.liputan6.com%2Fregional%2Fread%2F3386462%2Ftradisi-omed-omedan-bukan-ajang-ciuman-massal&psig=AOvVaw2udcZ45PIkcSBEFPYzmMDb&ust=1544423039154771

 

 

 

“Pementasan Barong” wisata Budaya Bali yang di cari oleh Wisatawan.

Membahas mengenai pariwisata, tentu kita tau bahwa berbagai belahan dunia sering kali mendengar dan mengucapkan kata Pariwisata, dimana pariwisata itu sendiri dapar diartikan sebagai Suatu perjalanan yang dilakukan secara berulang – ulang yang bertujuan untuk bersenang – senang. Destinasi wisata di dunia yang begitu banyak serta kawasan wisata yang ada di dalamnya yang tak luput dengan berbagai macam Daya tarik wisata yang menjadi keunikan dan kepopuleran dari suatu daerah tersebut. Seperti yang kita ketahui, salah satu Destinasi wisata yang telah mendunia seperti Bali dimana merupakan pulau yang memiliki begitu banyak sebutan, seperti misalnya “Thousand Temple of Island” , “Island of God”, hingga “Paradise Island”. Namun tak dapat kita pungkiri, Bali merupakan pulau yang memiliki beragam macam budaya dan kental akan tradisi khususnya bagi umat Hindu yang masih melakukan tradisi serta budaya – budaya yang di warisi turun temurun.

Begitu banyak tradisi dan budaya yang beranekaram di Bali yang membuat para wisatawan-wisatawan asing datang ke Bali untuk menyaksikan, merasakan bahkan hingga ada yang sampai ikut dalam pelaksanaan-pelaksanaan adat budaya Bali. Dimulai dari pementasan tari yang beragam sperti Barong, Rangda, Kecak, Topeng, Tari Sekarjagat, Tari Pendet serta beragam macam tari yang lainnya dan tak lupa dengan pemandangan yang begitu indah dan masih tradisional yang di kelilingi oleh persawahan yang hijau, tak lupa dengan air terjun yang sejuk dan menyegarkan di area Gianyar serta Badung,  dan tak lupa dengan pantai yang begitu menakjubkan di daerah Nusa Dua, Jimbaran hingga Buleleng . Namun bukan hanya itu saja, dunia malam pun dapat di jumpai jika ingin bersenang senang dengan iringan lagu serta minuman khas dari para barista ahli yang ada di kawasan pariwisata seperti Seminyak, Kuta hingga Canggu.

Berbicara mengenai adat istiadat, tradisi serta budaya, Pementasan tarian Barong menjadi salah satu daya tarik wisata yang begitu diminati oleh para wisatawan terlebih khusus di daerah Gianyar seberti Ubud, Sukawati, serta Batu Bulan. Begitu banyak tempat-tempat yang menyediakan pementasan tari barong yang dapat disaksikan dengan pembelian tiket seharga rata-rata Rp. 100.000,- yang dimana para wisatawan akan disajikan dengan penampilan dari tari pembukaa, Drama, hingga tari Barong oleh para penari yang menggerakan tubuhnya dengan di iringi oleh suara gambelan ( Musik ) khas dari Bali.

tari Barong dan Rangda

Barong sendiri memiliki begitu banyak cerita dan sejarah dimana salah satunya yang termuat di dalam Lontar Barong Swari dan Dalang milik Jero mangku Dalang Narta, Banjar Babakan, Sukawati, Gianyar dan Salinan Lontar Barong Swari Milik Puri KIlian Bangli, Anak Agung Gede Bagus Ardana, yang secara singkat penulis ambil ceritanya dimana dikisahkan pertemuan antara Ida Sang Hyang Guru dengan Dewi Uma yang melahirkan putra beliau yakni : Dewa Kumara. Namun suatu hari Dewi Uma begitu murka karena Dewa Kumara selalu bersama dengan Betara Guru dan hanya bertemu dengan Dewi Uma saat akan menyusui saja, sehingga Dewi Uma murka sambil menyusui Dewa Kumara sampai rambut dari Dewi Uma terurai. Saat itu Bhatara Guru datang dan mengusir Dewi Uma dari Kedewatan hingga menyebabkan Dewi Uma sampai di Mayapada ( Dunia = Alam Manusia ). Sesampainya Dewi Uma di Mayapada beliau menangis di bawah pohon beringin yang besar dan bercabang hingga air susu beliau menetes tak berhenti dan berubah menjadi tumbuhan pisang “ gedang saba “ yang merupakan bahan makanan untuk bayi.

Dewi Uma yang berlarut dengan kesedihan dan duka memiliki niat untuk membangun istana yang tak kalah dengan Kedewatan (Sorga) dan beliau saat itu berubah gelar menjadi : DEWI ROHINI. Yoga semadi yang beliau lakukan pun timbulah raksasa kerdil, setan kaki, setan perut buncit, setan berupa kambing, jin, hala-hala serta masih banyak lagi mahluk yang menjadi penjaga istana Betari Rohini.

Betara Guru pun mencari Dewi Uma yang hingga menyebabkan Betara Guru murka dan berubah menjadi “Rudramurti” (Dewa pencabut nyawa yang menyeramkan) yang bertemu dengan Betari Rohini yang sama-sama memiliki wujud yang seram dan ganas serta sadis. Kedua Betara itupun menyebabkan merbagai macam penyakit dari utara hingga barat yang menyebabkan manusisa sakit hingga meninggal dunia. Oleh karena musibah tersebut Betara tiga ( Dewa Brahma, Wisnu, dan Iswara) menciptakan yang di sebut : BARONG SWARI, yang bertujuan agar Betara Guru dan Dewi Uma Berbaikan kembali. Batara Brahma merubah wujud beliau menjadi Topeng merah, Batara isnu menjadi Penari Telek, dan Betara Iswara menjadi Barong sehingga dari sinilah asal mulai dari nama Barong Swari. Dan keempat dewata itu pun menari di perempatan yang bertujuan untuk membuat kesejahteraan dunia dan menyebabkan para bebutan yang senantiasa menjaga Betari Rohini dahulu, yang menyebabkan mereka bersembunyi ke tempat tempat sepi dan sunyi serta menyulitkan, sehingga dari situlah asal mula adanya tempat – tempat yang keramat serta angker, oleh karena dihuni oleh para bebutan.

Barong dan tari Keris

Diatas merupakan sekilas cerita sejarah dari Barong yang hingga saat ini umat Hindu di Bali khuusnya melakukan berbagai macam ritual hingga perayaan yang selalu berhubungan dengan Barong dan hingga kini Barong menjadi sesuunan di pura-pura yang ada di Bali.

Kita telah mengetahui bahwa barong merupakan suatu hal yang begitu sakral yang dipuja ole Umat Hindu, namun Barong juga memiliki daya  tarik wisata sendiri yang menyebabkan para wisatawan ingin menyaksikan dan tau scara langsung dari Barong tersebut. Tentu saja para tukang bapang ( penari barong ) akan membedakan tarian dari tapi barong secara sakral serta hiburan, dan bukan hanya itu saja dari segi pembuatan Barong pun oleh para sangging ( pembuat barong) akan di bedakan seperti misalnya dalam pengambilan kayu pole yang biasanya dijadikan punggalan ( kepala ), apabila memang akan di jadikan sesuunan maka diperlukan banten serta teknik khusus dalam pengambilan kayu tersebut, sebaliknya apabila memang akan dibuat hanya sebagai hiburan saja biasanya akan di bebaskan dan tidak begitu memerlukan upacara dan upakara. Selain itu untuk busana (payas) juga akan dibedakan. Begitu banyak hal yang diperlukan di dalam pembuatan Barong tersebut.

WhatsApp Image 2018-12-09 at 12.27.53 (1)
Para wisatawan tengah berfoto dengan para penari.
whatsapp-image-2018-12-09-at-12-27-54-1.jpeg
Para wisatawan yang sedang menyaksikan pertunjukan.

Keunikan dari setiap hal yang ada di Bali yang selalu di sertai dengan cerita- cerita sejarah menarik itulah yang menjadi daya tarik wisata tersendiri yang minati oleh paa wisatawan mancanegara. Beberapa wisatawan darir berbagai macam Negara seperti Malaysia, Singapore, India, Amerika, Eropa, Jepang, Australia , rusia bahkan hingga China mengunjungi Bali untuk menikmati, mengetahui serta beberapa hingga tertarik untuk mempelajari beberapa Kebudayaan – kebudayaan yang ada di Bali tentunya yang masih kental akan Tradisi maupun adat ini.

 

 

 

Refrensi :

Tesis dengan judul : REVITALISASI BARONG KET DAN RANGDA SERTA IMPLIKASINYA TERHADAP DESA PAKRAMAN KATUNG, KINTAMANI, BANGLI, BALI. Oleh: I Made Gde Puasa, tahun 2011

 

 

Penulis, Kadek Ayu Franciska Dewi

Tradisi Melukat Di Pura Tirta Empul

tirta empul 2

Bali merupakan salah satu destinasi wisata yang sangat pepuler dimata wisatawan baik domestik maupun mancanegara, dimana banyak wisatawan yang berbondong – bondong datang ke Bali hanya untuk melihat dan menikmati keindahan Pulau Bali. Selain kebudayaan, daya Tarik wisata juga berperan penting dalam menarik minat wisatawan untuk datang ke Bali. Daya tarik wisata adalah suatu tempat yang memiliki suatu keunikan yang mampu menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke tempat tersebut. Terdapat berbagai macam jenis daya tarik wisata  mulai dari daya tarik wisata budaya, daya tarik wisata alam, daya tarik wisata minat khusus dan daya tarik wisata buatan. Di era sekarang daya tarik wisata yang paling banyak diminati khususnya oleh wisatawan asing adalah daya tarik wisata budaya, yang mana didalamnya terdapat begitu banyak adat dan tradisi masyarakat setempat. Pada kesempatan kali ini, kami akan membahas tentang daya Tarik wisata yang sedang hits di bali saat ini yaitu, Tradisi melukat di Pura Tirta Empul.

IMG20181205171300

Melukat adalah salah satu budaya yang sudah melekat pada masyarakat Bali khususnya bagi umat Hindu. Dimana melukat merupakan kegiatan dengan tujuan untuk menyucikan diri dan pikiran dengan menggunakan sarana air. Tirta Empul  merupakan tempat melukat yang sudah dikenal oleh wisatawan baik itu wisatawan domestik ataupun internasional. Pura Tirta Empul berlokasi di Jl. Tirta, Desa Manukaya, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar. Pura Tirta Empul ini juga berdekatan dengan Istana Presiden Tampaksiring. Sejarah dari Pura Tirta Empul yaitu dikisahkan terdapat seorang raja bernama Raja Mayadanawa yang memiliki kesaktian luar biasa dimana dia menganggap dirinya sebagai Dewa. Dia melarang rakyatnya untuk menyembah Tuhan dengan segala manifestasinya ,karena ia merasa tidak ada yang mampu menandingi kekuatan yang dimilikinya. Setelah perbuatan buruk Mayadanawa diketahui oleh para Dewa maka para Dewa yang dipimpin langsung oleh Dewa Indra menyerang Mayadanawa. Untuk mengalahkan pasukan Dewa Indra, Raja Mayadanawa menciptakan sebuah mata air cetik/racun dengan tujuan melenyapkan pasukan Dewa Indra. Ternyata taktik dari Mayadanawa berhasil, pasukan yang kelelahan akhirnya meminum air dari mata air yang diciptakan oleh Mayadanawa yang menyebabkan mereka sakit bahkan meninggal. Dewa Indra yang melihat pasukannya tersebut langsung menciptakan mata air sebagai penangkal dari racun yang diciptakan Mayadanawa dengan menancapkan tombaknya. Sehingga pasukan Dewa Indra dapat tersembuhkan dan mampu kembali memerangi Mayadanawa. Begitulah singkat cerita dari asal mula air suci yang ada di Pura Tirta Empul. Nama Tirta Empul itu sendiri awalnya diberi nama “Tirta Ri Air Hampul” yang kemudian menjadi Tirta Empul yang artinya Petirtaan yang mengepul, begitulah pernyataan dari Dewa Gede Mangku Wenten selaku Jero Mangku di Pura Tirta Empul. Hari piodalan atau upacara piodalan di Pura Tirta Empul jatuh pada purnama Kapat.

Akses menuju Pura Tirta Empul cukup mudah untuk dijangkau dimana dapat ditempuh dengan menggunakan sepeda motor ataupun mobil. Terdapat dua tempat untuk parkir, yaitu atas dan bawah. Tempat parkir bagian atas sebagian besar digunakan bagi sepeda motor, sedangkan parkir bagian bawah dapat digunakan untuk parkir kendaraan roda dua dan roda empat. Untuk dapat memasuki Kawasan Pura Tirta Empul, kita harus membayar tiket masuk atau karcis seharga Rp. 2000 per kendaraan. Hal yang paling penting dan diutamakan sebelum memasuki area suci pura adalah menggunakan kamen dan selendang. Bagi wisatawan yang datang dan ingin memasuki area suci pura namun tidak membawa kamen dan selendang, pengelola Pura sudah menyediakan kamen dan selendang disana. Fasilitas didalamnya pun sudah memadai seperti toilet, loker, dan tempat berganti pakaian. Untuk penyewaan loker dikenakan biaya sebesar Rp. 10.000 per loker.

Tahap awal penglukatan di Pura Tirta Empul dimulai dengan melakukan persembahyangan didekat kolam pengelukatan, baru setelah itu memasuki kolam dan melakukan penglukatan pada pancoran satu – persatu. Disana terdapat jumlah total 33 pancoran sesuai dengan jumlah urip di setiap arah mata angin menurut kepercayaan masyarakat Bali, terutama umat Hindu. Sebelum membasahi kepala dengan air pancoran para penglukat biasanya mencakupkan tangan terlebih dahulu sambil mengucapkan doa baru kemudian menundukkan kepala dan membasahi badan dengan air pancoran yang terasa sangat segar. Namun dari 33 jumlah pancoran yang terdapat di Pura Tirta Empul ini, terdapat 2 pancoran  yang tidak boleh digunakan untuk melukat oleh para pemedek atau pengunjung yaitu tirta pengentas dan tirta pabersihan yang letaknya pada pancoran nomor 2 dan 3 dari sebelah timur pada kolam pertama. Mengapa pancoran Tirta Pengentas dan pabersihan ini tidak boleh digunakan oleh para pemedek biasa? Hal ini disebabkan karena tirta tersebut hanya diperuntukan untuk upacara Pitra Yadnya.

Setelah selesai melukat, para pemedek dapat langsung berganti pakaian menggunakan pakaian adat lengkap yang kemudian dapat melanjutkan persembahyangan ke Jeroan atau area utama Pura. Hal yang paling diperhatikan sebelum memasuki area utama pura ini adalah mengikat rambut bagi pemedek perempuan. Selain itu terdapat peraturan lain di pura tirta empul yaitu tidak diperkenankan masuk jika :

  1. Tidak berpakaian adat atau tidak memakai selendang atau sarung
  2. Memakai celana pendek
  3. Bagi wanita yang sedang haid tidak diperkenankan naik di sekitar bangunan suci.

Menurut salah satu wisatawan asing yang sedang berkunjung ke pura Tirta Empul, yang bernama Mariela dan Feredigo berpendapat : “This Temple is very nice, very unique with holy water. We are amazed with the nature of this temple. We are so excited to try entering the water”. Mereka memang berencana untuk mengunjungi Pura Tirta Empul ini karena melihat informasinya melalui internet. Mereka tertarik untuk dapat melihat secara langsung keindahan serta keunikan yang terdapat di Pura Tirta Empul ini.

Pura Tirta Empul saat ini sedang melakukan pengembangan sebagai daya Tarik wisata dengan pembangunan sebuah patung yang terbuat dari rotan yang menyerupai sebuah wajah. Hal ini mampu menambah minat wisatawan untuk berkunjung ke Pura Tirta Empul tersebut.

IMG20181205171428

Informasi berbagai hal, termasuk daya Tarik wisata yang ada di Bali seperti Pura Tirta Empul ini contohnya sangat mudah didapatkan melalui media internet. Tidak hanya hal baik melainkan juga permasalahan-permasalahan di masyarakat seperti yang baru-baru ini terjadi yang  berkaitan dengan Pura Tirta Empul itu sendiri yakni kasus saber pungli yang melibatkan perdebatan antara pemerintah dan  masyarakat desa pekraman yang ada disana. Menurut informasi yang beredar di berbagai media sosial seperti Facebook dan Instagram masyarakat sekitar dituduh melakukan pungutan liar terhadap pemedek yang berkunjung kesana. Pemkab Gianyar sebelumnya memang sudah ada perjanjian tentang pemungutan tiket masuk seharga Rp.15.000/ pengunjung, yang mana hasilnya akan dibagi dua dengan perhitungan 60% untuk pemerintah dan desa memperoleh 40%. Pemungutan tiket resmi ini dilakukan mulai pukul 07.00 – 15.00 WITA. Namun mulai pukul 15.00 – 18.00 WITA. Desa Pekraman kembali menjual tiket yang berlogokan Desa Pekraman Manukaya. Tetapi hasil penjualan tiket pada pukul 15.00 – 18.00 WITA tersebut sepenuhnya masuk ke dalam uang kas Desa Pekraman Manukaya. Hal inilah yang dianggap sebagai pungli oleh Pemerintah Kabupaten Gianyar.

Jika dilihat dari sudut pandang masyarakat Desa Manukaya maka pengutan ini tidak dianggap sebagai pungutan liar, karena uang yang masuk nantinya juga akan digunakan untuk pengembangan Pura Tirta Empul itu sendiri. Dengan adanya permasalahan ini, permungutan karcis terhadap kendaraan yang masuk juga ditiadakan. Masalah pungli yang terjadi di Pura Tirta Empul masih dalam proses penyelesaian.

Begitulah penjelasan singkat mengenai Pura Tirta Empul mulai dari sejarah, lokasi, proses penglukatan hingga permasalahan yang terjadi dan berkaitan dengan Pura Tirta Empul tersebut. Semoga artikel ini bermanfaat bagi pembaca. Sekian dan terima kasih.

IMG20181205155446

Referensi :

https://en.wikipedia.org/wiki/Tirta_Empul

https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=9&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwjK-e_9r43fAhUQSY8KHXZRCLgQFjAIegQIDRAB&url=https%3A%2F%2Fhistori.id%2Fpura-tirta-empul%2F&usg=AOvVaw1fBYiAXGpVw4HRLFqAB6Ha

 

 

Sri Yulianti & Sutriani

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai