Apa yang terjadi apabila Bali bukan Pulau wisata?

             Bali yang kita kenal saat ini adalah Pulau yang memiliki banyak warisan budaya dan tradisi, terutama dalam bidang kerohaniannya yang terikat dengan kebudayaan yang di milikinya. Kita sebagai calon penerus sudah sepatutnya menjaga dan melestarikan apa yang telah kita miliki, karna itu merupakan warisan turun temurun dari leluhur kita di masa lalu seperti Pura, candi, dan masih banyak lagi peninggalan sejarah yang berbentuk bangunan dan juga bendada kuno langka yang sat ini kita manfaatkan dalam bidang pariwisata, selain bangunan budaya yang kita anut dalam kehidupan sehari-hari merupakan warisan dari leluhur kita di masa lalu. Pernahkah kalian berfikir “Apa yang terjadi apabila bali bukan Pulau Pariwisata?” Bagaimana jdinya jika bali tanpa pariwisata? Bali tanpa Pariwisata tentunya bukan Bali yang seperti sekarang, mungkin semua lahan pertanian dan perkebunan sudah habis menjadi gedung-gedung menjulang maupun pabrik dan kita sebagai penduduk tentunya hanya akan bekerja sebagai seorang buruh tanpa adanya inisyatif untuk maju karna jika tidak mengenal dunia Pariwisata tentusaja pikiran kita akan kuno. Banyak oknum yang menyalahkan pariwisata dalam berbagai permasalahan, Apa itu benar? Tentu saja tidak bisa di bayangkan jika bali bukan pulau wisata bali sudah habis menjadi jajahan para pemburu uang karna kita tidak bisa berfikir secara moderen. Bisa kita lihat sekarang banyak sawah dan ladang yang di rawat dan untuk di jadikan objek wisata secara tidak langsung lingkungan tersebut di lestrikan, dan hal tersebut berkat pariwisata, contoh lainnya seperti pantai yang di rawat dan di bersihkan untuk di jadikan objek wisata dan itu berdampak baik pada lingkungan,selain itu Pariwisata jugs mengingatkan kita akan budaya yang kita miliki karna itu merupakan daya tarik utama para tamu ingin berkunjung ke bali karna budaya yang kita miliki masih alami menurut mereka dan hal tersebut tentunya tidak di temukan di negaranya, di saat wisatawan luar datang kemari dan bahkan ingin belajar tentang budaya kita mengapa kita justru secara perlahan meninggalkan budaya kita dan meniru budaya mereka di saat mereka mengincar budaya kita sendiri seperti Tari Pendet yang di klaim oleh negara Malaysia, bukankah itu artinya budaya kita sangat berharga? Itulah hal uyang patut kita jaga. Kita adalah orang timur maka bersikaplah seperti orang timur bukan malah bersikap timur kebaratan , coba bayangkan tidak ada dunia pariwisata di bali ? tidak akan ada pemikiran untuk memanfaatkan sekaligus melestarikan alam dan budaya yang kita miliki, Bahkan Bali punya nama tersendiri di mata wisatawan terlepas dari bali yang merupakan bagian dari Negara Indonesia.Dari penjabaran di atas bukankah harusnya kita mendukung pariwisata?

b9bda8d3833ca59f146a638e031a2bd7

84d28f84aa245b2176fa6ac0ff3aad17

6531a9ce8894433212bbf376306a8e68

Karna pariwisata memanfaatkan alam bukan dengan cara merusaknya, bahkan saat ini banyak pebisnis yang ingin membangun usaha seperti restauran maupun pila dengan berdempetan dan sedikit demi sedikit membuat lahan kosong berkurang maka dari itu sangatlah penting belajar ilmu pariwisata sebelum memulai sebuah usaha yang berkaitan dengan wisata.Sejujurnya banyak manfaat kita belajar ilmu pariwisata karna sangat bermanfaat untuk untuk kehidupan sehari-hari, karna selain mempelajari ilmu pariwisata kita juga diajarkan tentang budaya-budaya dan tradisi yang kita miliki. Jadi tidak sepatutnya kita menyalahkan Pariwisata atas apa yang terjadi, tapi kitalah yang seharusnya lebih bijak dalam mengambil keputusan sebelum melakukan sesuatu.

OLEH : NI PUTU KARLINA DEWI
KALYANI SUNDARAM

TEMPAT KERAMAT DESA LABUHAN

         Menurut penuturan tokoh-tokoh yang ada di Desa Labuhan, pada zaman dahulu ada seorang tokoh Dayak yang bernama Datu Mangintir. Mereka berasal dari Desa Rangkup, pekerjaanya sebagai seorang petani dan pemburu binatang. Pada suatu hari Datu Mangitir berburu bersama anjing kesayangannya. Setelah pergi agak jauh dari rumah, beliau menemukan seekor binatang buruan yang kemudian di kejar oleh anjing kesayangan tersebut. Namun binatang buruan itu sulit untuk ditangkap dan akhirnya membutuhkan waktu yang sangat lama serta jarak dalam perjalanan yang cukup jauh. Setelah melewati beberapa hutan belantara, tertangkaplah binatang buruan itu, karena kelelahan Datu Mangintir tidak langsung pulang kerumah, namun beristirahat terlebih dahulu. Dalam peristirahatan Datu Mangintir sambil memperhatikan daerah yang ada disekitarnya yang berupa baruh (rawa) dan banyak di tumbuhi tanaman Bangkal, sehingga daerah itu diberi nama Baruh Bangkal. di Baruh (rawa) tersebut beliau melihat ada seekor ikan Haruan (Ikan Gabus) yang kepalanya sudah ditumbuhi lumut. Menurut kepercayaan mereka, apabila banyak terdapat pohon Bangkal dan Ikan Haruan (ikan gabus) bahkan sampai berlumut itu menandakan, daerah yang baik untuk tempat tinggal dan punya potensi sebagai lahan pertanian dan perkebunan. Setelah pulang beliau menceritakan tentang daerah itu kepada keluarganya dan mengutarakan keinginanya untuk pindah daerah yang baru yang ditemui itu. Setelah lama beliau menempati daerah tersebut dan melahirkan beberapa generasi secara turun-temurun yang akhirnya tempat itu menjadi terkenal dan mulai dimasuki oleh budaya luar. Pada jayanya kerajaan Banjar yaitu seorang pemimpin dari seluruh daerah yang ada didaerah Kalimantan Selatan, Baruh Bangkal termasuk daerah yang diwajibkan untuk membayar upeti (pajak). Upeti (pajak) yang diharuskan berupa hasil pertanian dan hasil perkebunan dari penduduk. Upeti  dibayar setahun sekali kepada kerajaan Banjar. Pada masa itu alat transfortasi darat, belum ada, sehingga untuk mengirim barang kekerajaan adalah melalui sungai dan menggunakan alat transfortasi yang berupa Lanting (Rakit) yang terbuat dari pohon bambu. Sebelum barang Upeti dari berbagai daerah itu dikirimkan, terlebih dahulu dikumpulkan didaerah Baruh Bangkal yang kemudian di labuh dan di kirim melalui sungai yang ada didaerah Baruh Bangkal, sehingga daerah itu sering disebut sebagai pelabuhan dan banyak orang menyebut dearah itu sebagai Labuhan yang akhirnya eksis sampai sekarang berubah menjadi nama Desa Labuhan.

• Asal Usul Keturunan Dayak Labuhan

Suku Dayak Labuhan berasal dari Balian Cuur (nama seorang balian). Balian tersebut  dianggap sangat suci karena tidak mau mengerjakan hal-hal dilarang oleh nenek moyangnya, seperti mencuri, berjudi dan sebagainya. Ada beberapa keturunan Balian Cuur yang hidup pada masyarakat Desa Labuhan sebagai berikut:

  1. Mangku Karata
  2. Mangintir
  3. Pantinggi Anom
  4. Bangsi
  5. Gumara
  6. Pandani
  7. Rado
  8. Datu Anggarah
  9. Maharata
  10. Candau
  11. Kundai
  12. Surajaya
  13. Mahajaya Karti
  14. Singajaya
  15. Singa Gati
  16. Singa
  17. Raksa Jaya
  18. Raksa
  19. Tumanggung
  20. Aqam
  21. Hayat
  22. Ahmad
  23. Mahlan
  24. Kamrani
  25. Suriansyah
  26. Norifansyah
  27. Iduh
  28. Suan

        Dari dua puluh delapan silsilah keturunan Dayak Labuhan tersebut, dari nomor 1-19 adalah nama gelar karena kedudukan kepemimpinanya, sedangkan dari nomor 20-28 adalah nama orangnya yang menjadi pemimpin kepala adat dan kepala Desa yang dipilih rakyat. Mangku Karata berasal dari Desa Pembakulan, mereka di angkat menjadi pemimpin Desa Labuhan setelah Beliau berhasil mengusir pemberontak yang tidak dikenal asal usulnya. Pada masa itu penduduk Labuhan sedang gelisah dan dilanda kekacauan, karena daerahnya selalu didatangi oleh pemberontak, yang setiap saat dating untuk memberontak hasil hutan, seperti kayu Ulin, Rotan dan sebagainya yang ada di Desa Labuhan. Merasa tidak mampu untuk mengatasinya akhirnya penduduk Labuhan bermusyawarah untuk mencari cara bagaimana mengatasi para pemberontak tersebut setelah bermusyawarah akhirnya ada salah satu diantara penduduk yang berbicara dan menyampaikan tentang mimpinya bahwa untuk mengatasi pemasalahan itu perlu minta bantuan seseorang yang ada didesa pembakulan. Akhirnya pada saat itu juga mereka mencari orang tersebut dengan maksud untuk meminta bantuan. Setelah sampai di tempat tujuan mereka langsung menyampaikan maksud kedatanganya yang akhirnya Mangku Karata setuju untuk membantu mereka. Sebelum Mangku Karata berangkat, ayahnya menyarankan agar membawa gegaman (senjata sakti) berupa tombak dan terbuat dari emas yang terletak di Gunung Hauk. Ayah Mangku Karata bersedia untuk mengembalikan senjata tersebut, namun dengan jarak yang sangat jauh dan dengan perjalananya hanya berjalan kaki, sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama. Tidak sabar menunggu akhirnya Mangku Karata bersama rombonganya berangkat dan hanya dengan membawa sebilah pisau Bahulu Hiras (bergangang senyawa). Ketika di tengah perjalanan mereka bertemu dengan para pemberontak yang sedang membawa hasil hutan di Desa Labuhan, kemudian Mangku Karata menegurnya agar hasil hutan itu tidak dibawa dan dikembalikan kepemiliknya. Namun para pemberontak  menolak dan tetap membawa hasil rampasan itu dan berlabuh  melalui sepanjang sungai yaitu dengan menggunakan alat transfortasi  berupa lanting (rakit) yang terbuat dari pohon bambu. Akhirnya Mangku Karata tidak sabar dengan menggunakan tenaga dalamnya, Beliau memberhentikan perjalanan para pemberontak  dan mengembalikan rakit itu kembali dengan melawan arus sungai. Melihat kejadian itu para pemberontak ketakutan dan pergi sehingga sampai sekarang tidak ada lagi yang berani merampas atau memberontak di Desa Labuhan. Karena itulah mangku Karata akhirnya diangkat sebagai pemimpin di Desa Labuhan, meskipun beliau bukan merupakan penduduk aslinya, dan akhirnya setelah wafat, Beliau gaib ke Gunung Pahiyangan ,dan sebelumnya Beliau berpesan kepada keturunanya bahwa apabila membutuhkan atau minta bantuan cukup memanggil namanya saja, maka beliau akan membantu, sehingga masyarakat Dayak Meratus di Desa Labuhan masih percaya dengan kekuatan Beliau dan apabila masyarakat Dayak Meratus di Desa Labuhan berada dalam kesusahan atau pemasalahan yang tidak bisa teratasi sendiri, cukup dengan memanggil nama Mangku Karata saja, maka dengan kekuatan gaib Beliau akan turun dan membantu orang yang lagi kesulitan.

           Adapun acara sakral yang terdapat di desa labuhan yaitu BAKILAH ( acara sukuran/yatnya ) di tempat keramat.

           Desa labuan, kecamatan batang alai selatan, kabupaten hulu sungai tengah, provinsi kalimantan selatan. Adalah tempat tinggal saya, desa labuhan di sebut tempat keramat, disana terdapat tempat keramat yang bernama LOK LABUHAN. Masyarakat sanagat mempercayai tempat keramat itu bisa mengabulkan keinginan, disana kita bisa memohon, berjanji, dan meminta dengan mengadakan ikatan dengandiri dengan leluhur yang ada disana. Contohnya seperti kita memohon keberhasilan dalam usaha, disamping memohon kita harus berjanji dengan leluhur di sana. Apabila permohonan kita terkabul maka kita tidak boleh mengingkari janji yang telah di ucapkan pada leluhur disana yaitu mengadakan sukuran/yatnya ( BAKILAH ) sesuai janji yang telah di ucap kepada leluhur. Apabila janji yang telah terucap itu tidak di laksanakan maka leluhur lok labuhan itu akan meminanya kembali dan akan berakibat fatal dan bisa jadi nyawa kita taruhannya. Selain memohon keberhasilan, kita juga bisa meminta kesembuhan ketika dalam keadaan sakit yang aneh ( non medis ) kita bisa memohon disana agar penyakit tersebut di sembuhkan. Namun disana tergantung apa yang di janjikan dengan leluhur di sana ( leluhur lok labuhan ). Seperti yang saya alami pada beerapa waktu yang lalu, saya mengalami sakit yang tidak bisa di sembuhkan oleh ti medis, waktu itu saya sudah berobat beberapa kali ke dokter namun dokter bilang tidak ada penyakit dalam tubuh saya. Setelah itu saya langsung mengabari orang tua saya di kampung ( desa labuhan ). Orang tua saya langsung meminta bantuan balian ( sulinggih ) agar bisa mengetehui penyakit yang saya derita, lalu orang tua tua saya mengabarkan bahwa saya sakit ( non medis ), melaikan teluhur lok labuhan lah yang telah mengingatkan kembali agar janji yang pernah dijanjikan di tempat keramat ( LOK LABUHAN ) harus d tepati. Karena orang tua saya dulu pernah berjanji di tempat keramat lok labuhan dan hampir terlupakan, hanya dengan orang tua saya kembali berjanji untuk membayar janji – janji. Syukurlah leluhur di sana masih mau mengembalikan kesehatan saya kembali seperti semula, di adakanlan syukuran/yatnya ( BAKILAH ) dengan memotong kambing dan ayam sebagai penebusnya, seteleh itu saya kembali sehat seperti sedia kala.

Ada beberapa tata cara dan alat melakukan ritual yadnya ( Bakilah di Tempat Keramat):

Sehari sebelum acara kita mngundang warga, kerabat, dan para balian ( sulinggih )

– Setelah hari hal nya telah tiba di sana di persiapkan semuanya seperti sambutan tuan rumah, penyerahan pekerjaan pada warga – warga dan balian yang berhadir di acara tersebut. Setelah itu para warga dan balian memulai upacara bakilah

– Adapun alat – alat untuk melak sanakan acara bakilah seperti gambar 1.1 dan gambar 1.2 di bawah yang mana terdapat japin ( ingka ), teko , kawah ( wajan ), tungku, terpal, ember, kayu, piring, gelas, tempat pencucian beras ( andungan ).

IMG-20181206-WA0007
Gambar 1.1
IMG-20181206-WA0006
Gambar 2.2

Gambar 1.3  Di gambar dibawah adalah waktu menceritakan awal mula sakit oleh orang tua korban.

IMG-20181206-WA0041
Gambar 1.3

 

– Gambar 1.4. Di bawah terdapan perkumpulan balian dan waraga yg hadir dalam acara bakilah, di sebelah kiri terdapat balian ( sulinggih ) yang sedang bamamang ( menyampaikan janji kepada leluhur yang ada di sana). Sebelah kirinya terdapat para warga yang siap mengerjakan dan membantu mengerjakan ketika sudah diberikan pekerjaan oleh tuan rumah ( yang mengadakan kegiatan ).

IMG-20181206-WA0032
Gambar 1.4

– Gambar 1.5 hewan korban yang telah di janjikan ( kambing dan ayam ).

IMG-20181206-WA0022

 

– Gambar 1.6 setelah hewan korban dimasak dan semua persiapan telah siap, seranjak ke acara makan bersama. Sebelum makan kembali lagi memohon ( bamamang / bahihimpat ) kepada leluhur dan ber Do’a kepada Sang Hyang Whidi.

IMG-20181206-WA0036(1)
Gambar 1.6

 

Karmila Kariatin dan Indi Winata

 

Daftar Pustaka

http://alpisisw4nto.blogspot.com/2016/06/sejarah-dan-asal-usul-keturunan-di-desa.html?m=1

Hasil Observasi Langsung

 

 

TRADISI MAYAT TIDAK DIKUBUR DI TRUNYAN

Sejarah Tentang Desa Trunyan

     Nama Trunyan memang merupakan nama sebuah pemakaman yang ada di Desa Trunyan. Jika pada umumnya pemakaman selalu identik dengan peti atau kain kafan, berbeda dengan kuburan di pemakaman Trunyan ini. Arti nama dari Desa Trunyan dibagi menjadi ke dalam dua kata yaitu “Taru” dan “Menyan”. Taru adalah nama pohon yang beraroma wangi seperti parfum yang ada di Desa Trunyan. Menyan merupakan wewangian.

*Pohonnya Berusia Ribuan Tahun

Pohon besar yang tumbuh di tengah pemakaman Trunyan itu di perkirakan berusia ribuan tahun. Tapi anehnya pohon itu tidak banyak mengalami perubahan. Masyarakat sekitar percaya, bahwa pohon besar ini dapatmenyrap bau busuk dari jenazah yang diletakkan di bahawah pohon besar ini. Berdasarkan cerita penduduk ,pada awalnya desa tersebut tiba tiba di hampiri kebingungan karena munculnya bau harum menyengat di seluruh desa, bahkan saking menyengatnya banyak penduduk yang mengalami pilek. Setelah di telusuri ,ternyata bau harum menyengat tersebut berasal dari sebuah pohon besar, kemudian supaya bau harum menyengat tersebut tidak menganggu penduduk desa lagi, maka di putuskan tempat tersebut di jadikan tempat pemakaman..

Pohon yang mengeluarkan aroma khas yang kuat tersebut hanya dapat tumbuh di daerah ini saja , Selain di Desa Trunyan maka pohon ini tidak mau tumbuh atau hidup kalau di tanam. Kalau anda penasaran atau kurang percaya ,anda boleh langsung mencobanya.

     Desa Trunyan terletak  Di Kintamani, Bangli, Bali. Trunyan merupakan desa terpencil di tepi Danau Batur, Sehingga bagi para wisatawan atau seseorang  yang ingin ke Trunyan harus menyebrang menggunakan sampan atau perahu melewati Danau Batur. Jujur ,disini walaupun saya dari  Desa Songan Kintamani ,tepatnya di sebelah desa Trunyan atau beradapan langsung dengan desa saya, Seinget saya baru sekali ke Desa Trunyan. Kenapa? Karena kebetulan saya dari kecil tinggal di Badung.

  • Foto saat orang selesai nebusin

     *Desa Trunyan yang merupakan salah satu wilayah dihuni oleh suku Bali Aga atau Bali Mula yang masih teguh memegang kepercayaan leluhurnya. Bali Aga atau Bali Mula merupakan suku bangsa yang pertama mendiami Pulau Bali. Hingga kini suku Bali Aga dan segala keunikannya masih dapat ditemui salah satunya di Desa Trunyan. Dalam keseharian masyarakat Bali pada umumnya beragama “Hindu”, bila ada kerabat yang meninggal maka biasanya dilakukan kremasi atau mengubur jenazah tersebut sesuai dengan diajar.

     Istilah di Desa Trunyan, jenazah tidak dikubur atau dikremasi seperti yang umumnya terjadi di wilayah lainnya, masyarakat Desa Trunyan menyimpan jenazah kerabatnya yang telah meninggal di atas tanah, dengan ditutupi kain dan bambu yang disusun membentuk prisma.

 

     Masyarakat desa Trunyan menamakan upacara pemakamannya dengan  Mepasah kan oleh agama Hindu.Seperti yang telah disinggung di atas, bahwa dalam mepasah, setelah upacara pembersihan dengan cara dimandikan dengan air hujan, jenazah hanya digeletakan di permukaan tanah. Tempat

pembaringan jenazah diberi lobang sekitar 10 hingga 20 cm agar posisi jenazah tidak bergeser akibat kontur tanah pemakaman yang tidak rata.

     Kemudian selain bagian wajah, bagian tubuh jenazah dibalut kain berwarna putih. Sebagai penanda, jenazah ditutup dengan bambu yang disusun membentuk prisma yang disebut ancak saji. Yang unik adalah meski pun jenazah diletakan di permukaan tanah, mayat tersebut tidak tercium baunya.Jenazah tersebut diletakan di antara pohon Taru Menyan, taru berarti pohon dan menyan berarti harum. Kiranya, aroma yang keluar dari pohon taru menyan inilah yang dapat menetralisir udara di sekitarnya.Pohon yang mengeluarkan aroma khas yang kuat tersebut hanya dapat tumbuh di daerah ini, meskipun telah dicoba ditanam di daerah lain. Keunikan pohon ini agaknya telah menjadi cikal bakal nama desa Trunyan.

      Di bawah satu pohon taru menyan, hanya dapat diletakkan maksimal sebelas jenazah. Hal tersebut sudah diatur oleh kepercaan adat setempat. Tetapi ada yang mengatakan bahwa satu pohon taru menyan hanya bisa menetralisir sebelas jenazah, jadi jika lebih dari itu maka jenazah tersebut akan mengeluarkan bau.Bila ada jenazah yang baru, maka maka satu jenazah yang paling lama akan dipindahkan, ke tempat terbuka, tidak ditutupi dengan kurung ancak saji lagi melainkan disatukan dengan dengan jenazah lainnya dalam tatanan batu atau di bawah pohon

     Maka tidak heran jika di tempat tersebut, terdapat tulang belulang dan barang-barang bekal sesaji seperti sandal, sendok, piring, pakaian, dan lain-lain berserakan di area pemakaman. Hal tersebutmemang disengaja karena tidak boleh ada barang yang yang dibawa keluar dari area pemakaman ini.

     Tetapi tidak semua jenazah dapat diperlakukan sama seperti yang telah disebutkan. Hanya pada kondisi tertentu saja jenazah dapat dimakamkan seperti ini. Syarat jenazah yang dapat dimakamkan dengan cara tersebut adalah mereka yang pada waktu meninggal termasuk orang-orang yang telah berumah tangga, orang-orang yang masih bujangan dan anak kecil yang gigi susunya telah tanggal, orang-orang yang meninggal dalam keadaan wajar dan tidak terdapat luka yang belum sembuh, serta memiliki bagian tubuh yang lengkap. Jika tidak memenuhi syarat tersebut, maka jenazah disemayamkan dengan cara dikubur.

     Adat Desa Trunyan telah mengatur tata cara pemakaman untuk masyarakatnya. Terdapat tiga jenis sema (makam) yang berada di Desa Trunyan dan telah dibedakan berdasar umur orang yang meninggal, keutuhan bagian-bagian tubuh, dan cara penguburannya. Area pemakaman pertama disebut sebagai sema wayah, tempat pemakaman yang dianggap paling baik dan paling suci, yaitu ketika jenazah dapat dimakamkan dengan cara mepasah. Jenis pemakaman kedua adalah sema muda, di tempat ini jenazah dikebumikan dengan cara dikubur, diperuntukkan bagi anak-anak atau bayi yang gigi susunya belum tanggal.

     Tiga makam Di Trunyan, jenazah ditidurkan di tempat pemakaman yang disebut Seme Wayah. Seme Wayah bisa ditempuh dengan jalur darat atau menyeberang Danau Batur. Kali ini, kami mengawali perjalanan dengan perahu sewaan dari Desa Kedisan ke Seme Wayah. Setelah singgah di Banjar Trunyan, perjalanan diakhiri dengan jalur darat melewati Cemara Landung. Jika ingin sepenuhnya menempuh jalur darat, wisatawan tetap harus menyewa kapal dari Banjar Trunyan karena lokasi makam yang hanya bisa ditempuh lewat Danau Batur. Membelah danau dengan kapal boat pada pagi yang hening menjadi pengalaman tak terlupakan. Di Seme Wayah, pengunjung disambut jejeran tengkorak dengan tumpukan tulang belulang serta tebaran uang hingga aneka barang bekal kubur. Beberapa jenazah dibaringkan dengan dinding anyaman bambu untuk menghindari serbuan binatang buas. Sebatang pohon raksasa taru

 

menyan menjulang. Konon, pohon itulah yang menetralkan bau pembusukan mayat. Hanya orang yang meninggal secara wajar bisa dimakamkan di Seme Wayah. Mereka yang meninggal karena kecelakaan atau tak wajar dimakamkan di Seme Bantah, sedangkan Seme Muda untuk mengubur bayi, anak kecil, atau warga yang belum menikah. Perempuan Trunyan dilarang mengunjungi makam-makam yang saling terpisah itu. Mereka yang baru saja dari makam juga tak boleh langsung masuk ke Pura Pancering Jagat, harus melalui proses pembersihan.

Menurut Kepala Desa Trunyan Wayan Arjana, industri wisata belum berdampak kepada warga. Perekonomian desa lebih banyak ditopang pertanian dan peternakan. Warga pun cenderung acuh dengan kehadiran wisatawan. Kehadiran pengemis menjadi alarm bahwa Trunyan belum bebas dari kemiskinan. Jumlah penerima beras untuk rakyat miskin, misalnya, naik dari 438 keluarga pada 2011 menjadi 560 keluarga pada 2015. Setiap hari, rata-rata, ada lima boat serta lima perahu dayung mengangkut wisatawan ke Trunyan. Dari setiap perahu, pemerintah desa memperoleh retribusi Rp 15.000. Ongkos

 

sewa perahu berkapasitas tujuh orang bagi wisatawan Rp 600.000. Dalam balutan kemiskinan, Trunyan menampakkan keunikan berpadu keindahan. (MawarKusuma)

 

Ni Nyoman Ayunita

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TRADISI MAPEED YANG MASIH EKSIS DI DESA SUKAWATI

images

Bagi wisatawan asing maupun lokal yang pernah berkunjung ke Bali, tentunya Desa Sukawati sudah tidak asing lagi bagi mereka. Desa yang terkenal Memiliki Pusat perbelanjaan dan kerajinan tangan yang menjadi daya tarik bagi wisatawan selama berlibur di bali. Di Sukawati memiliki tradisi yang unik yaitu Tradisi Mapeed. Tradisi Mepeed ini tentunya bukan sesuatu hal yang baru lagi.

Desa Sukawati berada di wilayah kecamatan Sukawati,Kabupaten Gianyar ,Bali.Tradisi Mepeed yang di gelar di Sukawati ini adalah salah satu Warisan budaya dan  tradisi yang masih tetap bertahan  sampai saat ini,Sebagai tujuan daya tarik kawasan Sukawati , Bali pada umumnya ,sehingga Budaya dan Tradisi yang dimiliki Bali memang sangat kental dengan ritual atau pun prosesi agama,sehingga bali bisa memiliki Taksu di mata para wisatawan yang berlibur di bali.

Di Bali,Tradisi Mepeed sudah tidak asing lagi dan di gelar di sejumlah tempat,seperti yang di ketahui biasanya Mepeed adalah parade yang diikuti oleh para perempuan Bali. Yang dimana mereka berjalan mengusung sebuah gebogan atau yang disebut Banten upakara  dengan rangkaian buah dan jajanan tradisinal bali yan diatur dan di susun bertingkat  yang di hias dengan rangkian janur,tingginya bisa mencapai 1 meter. Namun berbeda ketika anda menyaksikan tradisi Mepeed di Sukawati yang di gelar setiap enam bulan sekali,para peserta Mapeed dirias dengan Menggunakan busana pakian atau payas agung yang dipadukan pakem busana Tradisonal desa adat setempat.

Para peserta Mapeed desa sukawati tidak mengusung gebogan seperti umumnya, dan peserta tidak di batasi,yang mengikuti tradisi ini tidak hanya kaum ibu saja,tetapi diikuti dari kalangan anak-anak,dewasa bahkan lansia ikut serta dalam tradisi Mapeed ini, mereka antusias berjalan atau berparade mulai dari Pura Dalem Sukawati hingga  sampai Pura Beji Cengcengan yang dimana merupakan perbatasan antara Desa Sukawati dan Desa Guwang. Para peserta dirias dengan Pakaian Tradisional Bali model payas agung, walaupun sudah banyak berkembang payasan agung modifikasi .namun masyarakat sukawati tetap bertahan dengan payasan Tradisonal  khas desa sukawati sendiri.

Jika ingin menyaksikan tradisi Mapeed di  Sukawati tentunya harus tepat waktu di karenakan Ritual ini tersebut hanya di gelar setiap 6 bulan sekali dan dalam rangkaian Pujawali atau Piodalan di Pura Dalem Gede Sukawati yang jatuh pada Anggara Kliwon Tambir, berselang 15 hari kemudian di Pura Puseh/Desa pada Buda Kliwon Matal. anda juga bisa menanyakan ke tour guide atau agen perjalanan anda,karena dalam kalender masehi setiap tahunnya,tradisi ini jatuhnya tidak pada waktu ataupun tanggal yang sama.bagi wisatawan yang berlibur di sukawati atau mereka yang hobi fotografi tentu tidak akan melewatkan momen istimewa ini.Upacara Pujawali di Pura Dalem Gede Sukawati Digelar dalam waktu 4 hari berturut-turut dan selama 4 hari itu Tradisi Mapeed itu akan terus dilaksanakan oleh penduduk Desa Sukawati.Pada pagi hingga siang digelar pujawali di Pura Dalem Gede  Sukawati dan sudah menjelang sore hari karma banjar mendapat giliran Mapeed akan bersiap-siap dengan tubuh di balut dengan payasan agung tradisional khas Desa Sukawati.

Di Desa Adat Sukawati Terbagi menjadi jadi 13 banjar,dan di bagi menjadi 4 kelompok,sehingga masing-masing kelompok terdiri 3 banjar .Pembagian kelompok ini bertujuan agar penduduk Desa Sukawati ingin Ngayah atau istilah nya Mepeed terbagi dengan rata,Dikenal sebagai krama Penyatusan Dibagi menjadi 4 yaitu diantarannya satusan Tebuana,Satusan Palak,satusan Telabah,satusan Gelumpang.Maka disetiap harinya Pengayah atau Peserta Mepeed terdiri dari orang –orang yang berasal dari banjar yang berbeda.para Pengayah Mepeed ini juga dapat dari kalangan apa saja seperti anak – anak maupun lansia dan ikut meramaikan tradisi ini.setiap adanya pujawali di Pura Dalem Gede Sukawati tidak pernah sedikit.Dikarenakan hampir seluruh masyarakat sukawati antusias mengikuti tradisi Mapeed ini,pada saat berlangsung nya tradisi ini mereka selalu merasakan kegembiraaan karena tradisi Mapeed ini merupakan sujud bhakti terhadap hyang widhi atas segala sesuatu  yang diberikan, Desa Sukawati mampu mempertahankan busana adat tradisional dengan pakem Desa Sukawati. Tradisi Mapeed ini bertujuan nunas toya (air suci) ke beji cengcengan untuk digunakan pada saat berlangsungnya pujawali di Pura Dalem Gede Sukawati.

umbul

Tradisi Mapeed berciri khas lelengisan yang memiliki arti kesederhanaan. Walaupun terlihat megah dengan payasan agung namun unsur tradisi Kesederhanaan ini tidak boleh di hilangkan, seperti contoh khas kancut belakang untuk pengayah putri. Di jaman modern seperti sekarang banyak yang menggunakan payasan modifikasi dan meninggalkan unsure kesederhanaan dari payasan pakem desa sukawati. Maka Desa sukawati  menegakan aturan berbusana yang benar dan bisa disaksikan langsung pada saat Tradisi Mepeed Berlangsung.

Terlihat barisan indah dengan busana payas agung yang sederhana ,Semuanya bergerak perlahan dalam Keserasian,Walaupun berjalan perlahan tetapi aura magis bagi yang menonton seakan terbius dengan  pesonanya,Bagaikan iringan widyadara dan widyadari dari kahyangan,Apalagi Wisatawan asing jarang melihat suguhan budaya seperti ini. Yang diawali dengan barisan pemuda yang membawa atribut Pura berupa Umbul umbul ukuran besar, Kober, dan Senjata Dewata Nawa Sanga. Dan kemudian diiringi ibu ibu yang membawa perlengkapan untuk ngayab beserta pemangku yang akan mengambil air suci, setelah itu baru rombongan ibu – ibu yang ngayah mekidung ,diikuti dengan anak – anak hingga lansia yang mengikuti prosesi Mepeed, diiringi baleganjur dan terakhir masyarakat umum yang ingin mengiringi prosesi Mapeed ini

Untuk Para Pengayah yang ikut dalam Tradisi Mapeed harus Berjalan dengan jarak kurang lebih 1,5 km, tanpa menggunakan alas kaki baik itu berupa sandal maupun sepatu . dan perjalanan di mulai dari Pura Dalem Gede Sukawati yang mana Perjalanan akan melewati pasar seni sukawati .banyak pedagang dan wisatawan yang sedang berlibur ataupun berbelanja dapat secara langsung menyaksikan tradisi Mapeed ini, dan tidak lupa mengabadikan momen ini dengan cara Berfoto  dengan pengayah .

Setelah kurang lebih berjalan 1,5 km smapailah pada tujuan yaitu Pura Beji Cengceng untuk nunas tirta (air suci) yang nantinya akan digunakan saat pujawali. Setelah pengambilan tirta (air suci),Para pengayah kembali ke Pura Dalem Gede Sukawati. Kembali berjalan tanpa menggunakan alas kaki tapi itu tak menyurutkan semangat anak-anak dan lansia yang ikut serta dalam Prosesi Mapeed ini.

Setelah sampai di Pura Dalem Gede Sukawati, Setelah itu ibu-ibu yang dapat giliran mengayah sudah bersiap – siap akan mementaskan Tarian Permas yang di bawakan selama 4 hari saat Upacara Pujawali di Pura Dalem Gede Sukawati, Dan di hari terakhir atau istilah balinya Nyimpen di Pura Dalem Gede Sukawati diadakan  pertunjukan calonarang yang selalu ada setiap piodalan /pujawali berlangsung, masyarakat sukawati percaya bila melaksanakan prosesi Mapeed ini dengan tulus iklas maka  tradisi ini akan berjalan dengan lancar dan akan datang keberkahan untuk yang mengikuti prosesi ini.

KADEK NOVA & MADE BUDI

“ CAK RINA”  Selalu Menampilkan Hal yang Berbeda

Asal Usul Tari Cak atau Kecak

cak3.jpg

Pada awalnya Tari Cak atau Kecak itu dibawakan untuk mengiringi Tarian Sang Hyang Jaran atau Sang Hyang Dedari. Dipentaskan untuk mengusir wabah penyakit di suatu Kampung atau Desa dan masyarakat setempat. Dengan perkembangan jaman , pada tahun 1930 ada seorang seniman lukis yang bernama Walter Spies yang berasal dari Jerman bekerja sama dengan I Wayan Limbak yang berasal dari Bedulu, Gianyar, Bali membuat garapan tari Cak atau Kecak yang berjudul Kumbakarna. Sejak tahun 1970 Tari Cak atau Kecak itu sendiri sudah mengalami peningkatan yakni dijadikan icon Budaya masyarakat Bali.

Sejarah Tari “CAK RINA”

cak4.jpg

Tarian Cak Rina ini diciptakan pada tahun 1971 oleh Sardono Waluyo Kusuma yang bertempat di Br. Teges Kanginan, Peliatan, Ubud, Gianyar, Bali. Dimana dalam garapan Cak Rina ini melibatkan anak-anak sampai orang dewasa. Tarian Cak ini bertemakan “Pertempuran Sugriwa Subali”. Tarian Cak Rina memadukan unsur teater dan kehidupan masyarakat di suatu lingkungan itu sendiri. Misalnya : Itik terlindas truk,  masyarakat yang mandi di Pantai atau di Laut, orang tua yang sedang membopong anak. Cak ini banyak menggunakan formasi garis di setiap saat serta bentuk formasi yang selalu berubah- ubah.

Perkembangan Tari “CAK RINA”

cak5.jpg

Tarian Cak Rina memiliki ciri khas yang tersendiri tapi sayang Kecak ini menuai controversial dari masyarakat Bali. Dimana pada waktu tarian ini ingin ditampilkan disebuah Festival di Jakarta pada tahun 1972 mendapat larangan yaitu tidak mendapat ijin untuk pentas di Festival tersebut. Nah sebelumnya perlu kalian ketahui mengenai personil dari Tarian Kecak ini hampir 90% dari kalangan petani dan tukang patung kayu.

Pada tahun 1976 Cak Rina karya Sardono Waluyo Kusumo di undang oleh Raja Iran untuk pembukaan “Festival Shiras” yang berada di Shiras atau Iran. Pada saat itu banyak media yang meliput baik media cetak maupun media elektronik. Disana Tari Cak Rina mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat seniman dunia.

Lalu pada tahun 1978 barulah Cak Rina diberikan ijin untuk pentas di Indonesia yang di tampilkan dalam rangka festival di Jakarta. Di tahun yang sama pula Cak Rina diundang untuk tampil di India.

Pada tahun 1986 Cak Rina mendapat undangann untuk tampil di Canada dalam rangka “Expo Vancouver”. Di tahun 1987 Cak Rina diundang lagi ke Canada dan setahunnya lagi Cak Rina diundang untuk tampil juga di Canada yaitu pada tahun 1988. Pada tahun yang sama yakni tahun 1988 Cak Rina diundang ke Singapore untuk tampil di “Festival Of Art” bersama dengan Group Temps Fort. Pada tahun 1988 sampai 2001 Cak Rina juga di undang ke Jepang untuk tampil di “Festival Of Art “ yang di adakan di Jepang.

Seiring jaman tahun ke tahun Cak Rina terus berkembang sesuai situasi dan kondisi masyarakat di Bali, contohnya seperti dalam Tarian Cak Rina di padukan dengan unsur perang api, dan Tarian Cak Rina juga di padukan dengan lighting yang memakai obor.

Perbedaan Tarian Cak Rina dengan Tarian Cak yang lain adalah sebagai berikut :

Tari Cak Rina :

  • Cak Rina lebih totalitas (tidak menggunakan cerita khusus seperti cerita Ramayana).
  • Penari Cak Rina semua di perankan oleh laki–laki.
  • Tarian Cak Rina tidak ada pemeran utama atau actor.
  • Tarian Cak Rina lebih banyak menggunakan komposisi.

Tarian Cak lain :

  • Tarian Cak lain lebih menggunakan cerita seperti Cerita Ramayana.
  • Penari Cak lain di perankan oleh perempuan dan laki–laki.
  • Tarian Cak lain lebih mengutamakan actor atau cerita.
  • Tarian Cak lain tidak menggunakan komposisi hanya duduk melingkar saja.

Agar lebih mudah ada beberapa riwayat cak rina antara lain sebagai berikut :

Mulai melawat menari yaitu :

  1. Tahun 1974 “Dong Dongeng Girah” di France, Switxerland, England, Italy, Germany.
  2. Tahun 1976 “Festival Shiras” ke Iran.
  3. Tahun 1978 ke India.
  4. Tahun 1986 “Expo Vancouver” Di Canada.
  5. Tahun 1987,1988 Ke Canada.
  6. Tahun 1988 “Festival Of Art” di Singapore, dengan group TEMPS FORT TEATERE dari France.
  7. Tahun 1989,1990,1991,1992 ke Japan.
  8. Tahun 1991 Membuat Karya Baru dengan judul “Kelahiran”.
  9. Tahun 1992 “Festival Carvantino” di Mexico.
  10. Tahun 1994 “Festival Pekan Wayang” di Jakarta, Brunei, Cambodia, Malaysia, Singapore, France.
  11. Tahun 1995 ke France.
  12. Tahun 1995 ke Cina.
  13. Tahun 1996 ke Japan.
  14. Tahun 1996 ke Italy.
  15. Tahun 1997 “Dragon Bond Rite” di America.
  16. Tahun 1997, 1998 ke Japan.
  17. Tahun 1998 “Festival ke San Paulo, Brazil”.
  18. Tahun 1998 ke Hong Kong.
  19. Tahun 1999, 2000, 2001 ke Japan.
  20. Tahun 2001 “Anseong Baudeogi Festival 2001” di Korea.
  21. Tahun 2004 “Laga Ligo” di ingapore.
  22. Tahun 2004 “Laga Ligo” di Holland, Spain, Italy, France ( Karya Robert Wilson).
  23. Tahun 2005 “Festival Lingken Center America”.
  24. Tahun 2005 “Kaliyuga International Geographic” di Calipornia.
  25. Tahun 2006 “Festival Melbourne, Australia”.
  26. Tahun 2007 “Festival Cina”.
  27. Tahun 2007 “Festival International DE TEATRO EXPEREMENTAL” di Ecuador.
  28. Tahun 2008 “Kolaborasi Teater dengan Teater Papa Tara Humara dari Jepang” di Jepang.
  29. Tahun 2009 “Festival Of Life In Indonesia” di GWK Bali.
  30. Tahun 2010 “Festival SACRET” di Belanda, menampilkan Skala dan Niskala.
  31. Tahun 2013 “Cak Warna” dalam rangka World Culture Forum di GWK Bali.
  32. Tahun 2013 “Miss World” di Nusa Dua Bali.
  33. Tahun 2013 “Pertunjukkan Teater Tari di GWK, Cak Rina berkolaborasi dengan Musisi Dewa Bujana”.
  34. Tahun 2016 “Dark Mofo Festival” di Tasmania Australia.
  35. Tahun 2016 “Rakernas JKPI ke 5 Banda Aceh”.
  36. Tahun 2016 “ICACM (International Congres On Assessment Center”.
  37. Tahun 2016 “Nusantara Berdendang” Cak Rina berkolaborasi dengan Tari dengan Tari Zaman. Methods)” di Nusa Dua Bali. Ratu Jaroe Aceh di Istana Negara Jakarta.

 

KARYA TARI YANG DICIPTAKAN OLEH CAK RINA :

  1. Tahun 1989 “Kelahiran”.
  2. Tahun 1994 “Pembakaran Sita” di Indonesia Dance Festival di Jakarta.
  3. Tahun 2001 April “Ngaraga” dalam rangka Solo Dance Festival di Solo.
  4. Tahun 2001 “Nginda Bayu” dalam PKB.
  5. Tahun 2005, 3 September “Megaliticum Kuantum” untuk merayakan hari kemerdekaan Indonesia.
  6. Bali Tahun 2006 Mei, Gempita Gianyar “Legenda Api Seni” Gianyar, Bali.
  7. Tahun 2007 “Pemutaran Gunung Mandara Giri” dalam Rangka PKB.

8.Tahun 2010 taggal 18-28 “Sekala Niskala Festival Ritual Modern di Amsterdam Belanda                dan Belgia.

  1. Tahun 2013 “Pertunjukan Teater Tari” di GWK.
  2. Tahun 2013 “Dua menit di Miss Word” di Nusa Dua.
  3. Tahun Bujana” tampil di Musium 2013-Bayang Wayang Musisi Dw Nasional Jakarta.
  4. Tahun 2016 “Zaman Cak Rakernas Jaringan Kota Pusaka Indonesia” di Banda Aceh.
  5. Tahun 2016 “Membara Energi Api” di Tasmania Australias.
  6. Tahun 2016 “Cak Ratu Jaroe” di Istana Negara Jakarta.

 

  • Dengan mengadakan kontak budaya melalui :
  1. Kolaborasi dengan para penari dari negara Jepang, Korea, India, Tuva, America yang bertema Dragon Bond Rite tahun 1997.
  2. Kolaborasi teater Jerman, Prancis, Jepang, Bali yang bertema Mouret Foli tahun 1989.
  3. Kolaborasi dengan tari Buto dari Jepang pada tanggal 15 Agustus 2008 di Teges, Bali.
  4. Kolaborasi teater Papa Tara Humara yang bertemakan Writer Jonathan Swift’s pada tahun 2008.
  5. Kolaborasi teater dalam rangka Festival Ubud yang bertemakan “A Midsummer Night’s Dream” pada tahun 2009 dengan sutradara dari India.
  6. Memberikan workshop Cang Mou University Korea tahun 2004.
  7. Memberi workshop di Jepang 1995 di Wokayama City.
  8. Memberikan workshop di Ekuador dalam rangka Festival Internasional De Teantro Experimental tahun 2007.
  9. Kerja sama Indonesia dan Jepang dalam rangka Festival of Life in Indonesia di GWK Bali tahun 2009.

 

 

 

 

OLEH :

NI PUTU VERLYNDA DEWI  &  NI NYOMAN WITARSANI

foto1.jpgfoto2.jpg

 

Pancoran Solas Tirta Taman Mumbul

Pada zaman dahulu Tirta Taman Mumbul sudah dikenal sebagai daya tarik wisata lokal, yang bertempat di Desa Sangeh Abiansemal . Dalam bahasa kawi terdapat kata Mumbul yang berarti muncrat, yang dimaksud dengan muncrat disini yaitu air yang keluar dari dalam tanah.

Taman-Mumbul-Sangeh-Bali

https://objekwisatadibali.com/taman-mumbul-sangeh-bali/

 

Seperti informasi yang kami dapat dari ketua pengelola  Pancoran Solas Taman Mumbul, awal dari sejarah Tirta Taman Mumbul terdapat air yang keluar dari dalam tanah sehingga terbentuknya sebuah danau kecil, dimana bisa dibilang danau, karena air yang terdapat di dalam danau tersebut merupakan air murni yang keluar dari bawah tanah. Pada awal mulanya Tirta Taman Mumbul istilahnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari contohnya seperti  mencuci, minum, makan, beternak dan lain sebagainya. Kemudian setelah beberapa lama ada sedikit demi sedikit perubahan karena pada sebelumnya masih sedikit sekali perawatan dan penjagaan ditempat tersebut. Dari dulu sampai saat ini tempat tersebut juga sering digunakan sebagai tempat untuk Melasti, diantaranya yaitu dari Kecamatan Petang dan juga Kecamatan Abiansemal yaitu kurang lebih sepuluh Desa Adat.

Di Tirta Taman Mumbul terdapat pura yang terletak di sebelah utara yang bernama Pura Ulun Swi dan ada juga pura yang terletak di dalam danau. Pura yang terletak di dalam danau tersebut sudah ditemukan dari dulu kala yang bersamaan dengan danau tersebut, karena air tersebut sangat diperlukan untuk mengairi sawah maka dibendunglah atau ditata lebih bagus lagi yang untuk mengairi sawah seluas 250 hektar.

Taman Mumbul juga terdapat pohon beringin yang sangat besar. Selain itu Tirta Taman Mumbul juga terkenal sekali dengan kebudayaannya seperi contohnya dalam istilah umat hindu yang sering sekali kita dengar yaitu yang namanya ngangget don bingin, dimana ngangget don bingin atau ngalap don bingin itu merupakan salah satu upacara yang sering dilakukan oleh umat Hindu. Ngangget don bingin merupakan upacara memetik daun beringin yang disebut sebagai rangkaian dari upacara memukur dalam atma wedana. Di dalam culture, life, art itu dijelaskan bahwa itu merupakan suatu ritual.

Upakara84

www.infobudayabali.com/news/upakara-ngangget-don-bingin

 

Selain itu ada juga yang namanya Nyegara Gunung, dalam upacara nyegara gunung sudah ada beberapa kabupaten yang melakukan upacara tersebut di Tirta Taman Mumbul yaitu dari Kabupaten Badung  dan Kabupaten Tabanan. Disini yang perlu kita ketahui bahwa nyegara gunung itu merupakan upacara Pitra Yadnya yang pasti akan pernah atau sudah pernah dilakukan oleh umat hindu. Dimana nyegara gunung merupakan suatu keseimbangan natural spiritual yang berorientasi kepada gunung dan lautan, sekala niskala, suci /tidak suci dan Rwa Bhineda dan sebagainya, nyegara gunung seperti yang disebutkan merupakan sebagai konsep tata ruang dalam budaya Bali. Dalam upacara Pitra Yadnya, nyegara gunung disebutkan bahwa merupakan suatu proses penciptaan dari Dewa Pitara menjadi Dewa atau Dewata-dewati, segara sebagai lambang predhana dan gunung merupakan sebagai purusa. Upacara nyegara gunung wajib dilakukan setelah dilakukan upacara nyekah, setelah itu Panca Maya Kosa terleburkan terakhir sehingga terciptanya dewata-dewati dan setelah itu diisthanakanlah di Sanggah Kemulan atau Pura Kawitan. Itulah sedikit tentang kebudayaan Bali. Selain kebudayaannya Tirta Taman Mumbul juga mengalami perubahan. Sebelum tahun 2013 sudah terdapat Pancoran Solas dan pada tahun 2013 masyarakat merencanakan lagi untuk membangun daya tarik wisata asing yaitu water park, namun putra dari Ida Bagus Nyoman Sena menentang mengenai pembangunan tersebut, karena sebelumnya Ayah beliulah yang mendirikan Pancoran Solas yang terdapat di Tirta Taman Mumbul yang terdahulu. Putra dari Ida Bagus Nyoman Sena yang bernama Ida Bagus Made Bawa yang ingin menyakralkan Pancoran Solas tersebut. Dulunya disana sudah terdapat Pancoran Solas yang pada zaman dulu sering digukanan oleh masyarakat untuk kebutuhan sehari- hari seperti yang saya jelaskan diatas yaitu untuk mencuci, makan, minum, bertani dan lain sebagainya. Selain sebagai prosesi keagamaan, Taman Mumbul juga menjadi sumber pengairan bagi 250 hektar sawah subak diseputaran Sangeh. Air yang terdapat pada Pancoran Solas tersebut sumber airnya berasal dari telaga (danau), namun sekarang Pancoran Solas tersebut sudah tidak digunakan lagi. Kenapa tidak digunakan lagi, yaitu sebab telaga (danau) yang sifatnya untuk ritual keagamaan atau disucikan jadi rasanya tidak etis jika dicampur adukan dengan aktivitas manusia yang khususnya melukat atau membersihkan diri. Sekarang Pancoran Solas tersebut sudah dibentuk di area yang di tengah atau istilah lainnya Madya Mandala  yaitu pada Agustus 2016 dibuatlah Pancoran Solas yang baru tersebut. Pada tanggal  12 Oktober 2016 Pancoran Solas tersebut diplaspas dan disakralkan. Saat ini Pancoran tersebut sudah banyak sekali pengunjung yang mendatangi  Pancoran  Solas tersebut baik wisatawan lokal maupun wisatawan asing.

IMG_20181206_164243 - Copy

 

Peraturan yang ada didalam Pancoran Solas

Perlu kita ketahui bahwa di setiap tempat-tempat suci pasti terdapat larangan-larangan atau aturan-aturan yang tidak boleh dilakukan seperti contohnya yaitu di Pancoran Solas. Adapun larangan atau aturan tersebut yaitu seperti orang yang sedang cuntaka atau sedang berhalangan tidak diperbolehkan untuk masuk ke dalam area pancoran solas, tidak boleh berkata kasar, memakai pakaian adat (sopan ) yang terpenting memakai kamen dan selendang. Siapa saja boleh masuk ke area Pancoran Solas tidak hanya umat hindu, tetapi harus mengikuti aturan-aturan yang berlaku ditempat suci tersebut.

 

Tata cara melukat di Pancoran Solas

Misalkan kalian baru pertama kali melukat di Pancoran Solas alangkah baiknya membawa/menghaturkan banten pejati, sebenarnya tidak ada patokan untuk membawa canang ataupun pejati semua itu tergantung diri kita masing-masing dengan berlandaskan yaitu tulus ikhlas, tetapi alangkah baiknya membawa pejati.  Pengunjung sudah bisa langsung mulai melukat di Pancoran Solas. Sebelum melukat terlebih dahulu melakukan persembahyangan yang di dampingi oleh pemangku. Setelah itu mulailah melukat dari pancoran yang paling selatan yaitu pancoran Dewi Gangga, dimana disana fungsinya untuk menetralisir sehingga dapat mengimbangi energi positif dan energi negatif. Kemudian berjalan kearah utara sehingga pancoran Siwa sebagai pancoran yang terakhir. Seperti informasi yang kami dapat, sesungguhnya fungsi dari kesebelas Pancoran Solas tersebut tidak semuanya untuk melukat tetapi hanya satu yang berfungsi sebagai pengelukatan yaitu pancoran Dewi Gangga sehingga yang lainnya merupakan berfungsi  sebagai Penugrahan atau sumber kehidupan, jadi dari kesebelas pancoran tersebut khususnya yang di pancoran Dewi Gangga itu berfungsi untuk pengelukatan atau untuk menetralisir. Seperti yang kita ketahui Pancoran Solas memiliki 11 (sebelas) pancoran yang mana setiap pancoran merupakan sebagai simbol dari kekuatan Tuhan, ini merupakan simbol dari kekuatan Dewata Nawasanga yang menjadi Sembilan penjuru mata angin mulai dari pancoran yang paling kiri atau yang paling utara yaitu simbol dari Dewa Siwa, Dewa Sambu, Dewa Sangkara, Dewa Rudra, Dewa Maheswara, Dewa Wisnu, Dewa Mahadewa, Dewa Brahma, Dewa Iswara dan ditambah lagi dua pancoran yaitu pancoran yang sebagai simbol kekuatan Dewi Saraswati dan Dewi Gangga. Pada hari-hari besar Agama Hindu, seperti contohnya Galungan, Kuningan, Tilem, Purnama, Banyupinaruh dan Kajeng Kliwon, Pancoran Solas selalu ramai dan bahkan saat hari libur seperti hari Minggu kunjungan warga atau wisatawan juga cukup banyak. Itulah sedikit mengenai tentang Pancoran Solas.

Seperti informasi yang kami dapat dari Ketua pengelola yaitu Ida Bagus Made Bawa bahwa sesungguhnya di dunia ini ada tiga tempat pengelukatan yaitu yang pertama ada di laut, kedua ada di tempat orang yang sudah me-dwijati (contohnya Sri Mpu, Ratu Pedanda) dan ketiga yaitu di gunung.

Pancoran Solas ini merupakan bagian ketiga dari tempat pengelukatan yaitu Gunung, kenapa bisa dibilang gunung karena dimana terdapat sumber air yang keluar dari dalam tanah disanalah bisa disebut dengan Gunung. Gunung merupakan sumber mata air yang menjadi penugrahan bagi semua makhluk hidup yang ada dibumi. Tanpa air manusia akan kehausan serta kekurangan zat air di dalam tubuh dan begitu juga dengan hewan tanpa air akan kehausan dan hingga mengakibatkan kematian, tumbuh-tumbuhan juga akan seperti itu layu kering hingga mati jika tidak mendapat sumber air atau sumber kehidupan.

Tentunya sudah banyak sekali masyarakat yang sudah tau tentang bagaimana khasiat atau fungsi Pancoran Solas. Itulah sedikit tentang Pancoran Solas yang dipercaya sebagai mata air Penugrahan.

 

 

 

Oleh : Dian Dwi Payani dan Dewi Ardaniyanti

 

 

 

Referensi :

https://www.balitoursclub.net/penglukatan-pancoran-solas/

 

 

Tradisi Tektekan Sebagai Daya Tarik Wisata

        Bali merupakan surga wisata yang memiliki daya tarik wisata mulai dari keindahan Pulau Bali dan keanekaragaman kesenian serta kebudayaan yang menarik para wisatawan asing maupun mancanegara untuk berkunjung ke Pulau Bali. Setiap kabupaten di Bali mempunyai kesenian  dan kebudayaan yang unik seperti, Kabupaten Tabanan yang diberi julukan “Lumbung Beras” oleh masyarakat Bali sendiri karena Tabanan memiliki wilayah persawahan yang sangat luas dan terdapat tempat wisata Jati Luwih  yang sudah diakui oleh UNESCO sebagi warisan budaya pada tahun 2012. Selain memiliki tempat wisata alam, Kabupaten Tabanan juga mempunyai banyak sekali tradisi yang masih tetap dilaksanakan sampai sekarang seperti, Tradisi Tektekan yang masih tetap dilaksanakan setiap tahun sekali yaitu pada Hari Pengerupukan, sehari sebelum Hari Raya Nyepi. Pada tahun 2013 Tradisi Tektekan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Untuk mengetahui lebih dalam mengenai Tradisi Tektekan yuk simak artikel dibawah ini !!

tektekan aaahttp://balilemuh.blogspot.com/2012/06/kesenian-tektekan.html

 

      Menurut kutipan wawancara dari Bapak I Made Nada sejarah,  Tradisi Tektekan pada mulanya adalah kegiatan yang sifatnya spontanitas, dengan bertujuan untuk menghilangkan rasa takut masyarakat terhadap wabah penyakit yang melanda desa Kerambitan pada waktu itu.  Dilihat dari asal katanya tektekan berasal dari kata “tek “yang kemudian dijadikan kata majemuk menjadi tektek , ditambah akhiran an menjadilah tektekan. Perlu diketahui untuk membuat nama suatu kesenian pada zaman dahulu  sangatlah mudah karena syaratnya hanya nama sebuah kesenian itu berkaitan dengan kesenian tersebut dan dapat diterima oleh masyarakat luas. Tektekan adalah Tradisi yang didominasi dengan suara “tek…tek…..tek” yang berasal dari bambu yang dipukul.

Pada tahun 1920 masyarakat desa Kerambitan mengalami bencana  Grubug atau wabah penyakit yang menyebabkan banyak korban yang berjatuhan, menurut kepercayaan setempat grubug ini disebabkan oleh Bhuta Kala atau roh halus, sehingga menyebabkan masyarakat desa Kerambitan merasa ketakutan apalagi menjelang malam hari sering terdengar suara-suara yang tidak biasa. Sehingga masyarakat berupaya untuk memulihkan keadaan  dan menghilangkan rasa takut dengan cara memukul benda-benda yang menimbulkan suara yang keras seperti : kaleng, kuali, cangkul. Cara itu dianggap berhasil karena wabah tidak lagi menyerang desa tersebut.

Pada  tahun 1930-an Desa Kerambitan terserang wabah lagi, hal ini diatasi dengan cara yang sama yang dilakukan pada tahun 1920 tetapi menggunakan benda yang terbuat dari bambu yang disebut dengan “kulkul”. Seiring dengan berjalannya waktu Tektekan dipandang oleh masyarakat menjadi suatu kepercayaan Desa Kerambitan dan sering dipentaskan sebagai tanda syukur kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena wabah penyakit telah berlalu. Tradisi tektekan kemudian sering dilakukan dengan cara spontan tergantung situasi  dan kondisi, dilakukan pada waktu sandikala ( peralihan waktu dari sore menuju malam hari yaitu pukul 18.30  wita) biasanya dilakukan sampai menjelang pagi.

Pada tahun 1965 Tradisi Tektekan akhirnya menggunakan cerita Calonarang yang disesuaikan dengan sifat awal terciptanya tradisi tektekan sebagai upaya dari masyarakat untuk menghilangan wabah penyakit yang disebabkan oleh roh jahat yang berhubungan dengan bhuta kala maka dari itulah tradisi tektekan termasuk tradisi yang bersifat sakral, tapi seiring dengan perkembangan pariwasata di desa kerambitan tradisi tektekan dijadikan atraksi budaya yang diminati oleh wisatawan asing maupun domestik yang berkunjung ke Desa Kerambitan.

GAMBELAN TEKTEKAN

        Gambelan atau alat musik yang digunakan pada saat tradisi tektekan menggunakan alat musik yang bernama kulkul yaitu alat musik yang terbuat dari bambu yang di pukul. Selain sebagai alat musik tradisi tektekan kulkul juga berfungsi sebagai alat pemberitahuan atau pengumuman tentang suatu yang terjadi kepada masyarakat, biasanya kulkul ini ini dipasang di desa adat, bale banjar, dan pemaksan pura dan kulkul ini terbuat dari bahan kayu yang berukuran paling besar  supaya menghasilkan bunyi yang lebih keras.

kulkulhttp://balilemuh.blogspot.com/2012/06/kesenian-tektekan.html

        Cara membuat kulkul sangat sederhana yaitu hanya dengan membuat lubang berbentuk segiempat memanjang ditengah-tengah batang bambu dan sekaligus batangnya sendiri sebagai resonatornya. Bambu yang dipakai untuk membuat kulkul adalah bambu yang agak tebal dan tidak terlalu tipis, seperti bambu ampel, gesing, dan petung. Supaya manghasilkan bunyi yang keras dan nyaring. Alat pemukulnya dibuat dari batang bambu atau kayu. Selain kulkul adapun beberapa alat musik pengiring tradisi tektekan seperti : okokan (alat musik yang terbuat dari kayu bagian dalamnya dilubangi yang hampir menyerupai kulkul tapi bentuknya lebih besar, dan didalamnya diisi pemukul yang disebut palit), kendang, dan ceng-ceng. Cara memegang kulkul pada saat tradisi tektekan dipentaskan adalah memegang ujungnya dengan tangan kiri dan kemudian batang bambu dijepit dalam posisi sejajar dengan lengan kiri.

 

JENIS TEKTEKAN

        Tektekan merupakan tradisi  yang diciptakan secara spontanitas oleh masyarakat Desa Kerambitan. Alat-alat gamelan tektekan sangat sederhana sekali akan tetapi dapat menghasilkan nuansa musik yang sangat menarik. Seiring dengan perkembangan zaman dan pengaruh pariwisata yang terus berkembang di seluruh Pulau Bali maka tradisi tektekan pun ikut mengalami perkembangan, hal ini dibuktikan dengan ditetapkannya tektekan sebagai Warisan Budaya Tak Benda  (WBTB)  pada tahun 2013. Menurut masyarakat Desa Kerambitan ada beberapa jenis tradisi tektekan yaitu sebagai berikut :

  1. Tektekan Rereongan                                                                                                            Kata rereongan berarti kegiatan yang dilakukan oleh anak-anak yang berumur  7 sampai 12 tahun secara spontanitas pada saat tertentu. Oleh karena itu tektekan rerongan biasanya muncul sebelum atau menjelang hari raya Nyepi. Kegiatan ini diawali dari masing-masing pintu rumah yang dilakukan anak-anak dengan memukul kulkul pada saat menjelang malam hari. Dari pintu kepintu pada akhirnya berkumpul menjadi satu kelompok tektekan yang berkeliling dijalan-jalan desa setempat. Kegiatan ini biasanya dilakukan rutin  pada hari pengerupukan yang dibarengi dengan mengarak ogoh-ogoh .
  1. Tektekan Undangan                                                                                                                  Tektekan undangan biasanya dilakukan pada saat tertentu apabila ada suatu kegiatan di masing-masing banjar. Tektekan undangan biasa terlaksana apabila salah satu banjar diundang oleh banjar  lainnya  untuk datang dan menampilkan kebolehan bermain tektekan. Tektekan undangan dilakukan secara bergantian oleh masyarakat satu banjar yang diundang dengan melibatkan anak-anak, pemuda dan orang dewasa, yang tergabung dalam satu kelompok yang dinamakan sekha tektekan. Dalam penampilannya kadang memakai cerita dan adapula yang tidak.
  2. Tektekan Baranangan                                                                                            Kepercayaan orang pada zaman dahulu bahwa suatu penyakit dapat berasal dari “skala” (alam nyata) dan “niskala” (alam tak nyata). Penyakit yang diakibatkan oleh alam niskala dapat berasal dari manusia yang mempunyai kesalahan kepada “pitra” (leluhur) dan “bhuta kala” (makhluk halus) yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Semua penyakit yang berasal dari alam tak nyata diyakini oleh orang zaman dahulu dapat disembuhkan hanya dengan mempersembahkan sesajen kehadapan bhuta kala untuk menebus kasalahan yang mungkin pernah diperbuat. Untuk membangkitkan suasana gembira dikalangan penduduk yang mengalami hal tersebut maka diadakanlah Tektekan Baranangan. Tektekan Baranangan diadakan sore menjelang malam hari dengan beramai-ramai sehingga menimbulkan suara dan suasana yang gaduh. Jadi fungsi dari Tektekan Baranangan ini adalah untuk mengusir roh yang dipercayai sebagai penyebab dari datangnya  penyakit tersebut. Tektekan Baranangan ini juga dipergunakan apabila salah seorang penduduk desa hilang atau disembunyikan oleh roh halus (memedi), serta tanaman diserang hama penyakit maka penduduk melaksanankan tradisi tektekan baranangan ini untuk mengembalikan keadaan seperti semula.
  3. Sebagai Musik Prosesi                                                                                                    Tektekan adalah sebuah gamelan yang tidak kalah menariknya apabila ditata sebagai musik prosesi. Dengan memanfaatkan instrument—intrument yang ada dapat menimbulkan suasana yang berbeda dibandingkan dengan gambelan yang lain. Kulkul yang jumlahnya hampir 20 buah dipakai ditambah dengan okokan (alat musik yang terbuat dari kayu bagian dalamnya dilubangi yang hampir menyerupai kulkul tapi bentuknya lebih besar, dan didalamnya diisi pemukul yang disebut palit) yang jumlah kurang lebih 20 buah sehingga menimbulkan suasana yang sangat menggelegar dan bergemuruh, disertai dengan ceng-ceng kopyak dapat menghasilkan irama yang menghentak-hentak  dan aksen-aksen yang kuat menambah semaraknya suara yang ditimbulkan. Ketiga instrumen tersebut apabila dipadukan dengan instrument-instrument yang lain seperti kendang, seruling, tawa-tawa (alat musik yang terbuat dari perunggu berbentuk bundar dengan ukuran garis tengah 31 cm), gong dalam gambelan Tektekan dapat menghasilkan suasana gambelan yang berbeda dengan gambelan lainnya.
  4. Tektekan Sebagai Seni Pertunjukkan                                                                          Sebagai seni pertunjukkan tektekan dapat memberikan nuansa yang berbeda dari gambelan-gambelan yang ada di Bali. Gambelan tektekan adalah gambelan yang mirip dengan gambelan Baleganjur. Tektekan memiliki pola-pola gegilakan dan bebapangan  (melodi pendek yang dimainkan), sebagai pemegang melodi pada gamelan ini adalah seruling. Biasanya gambelan Tektekan dipakai sebagi pengiring drama tari Calonarang yang dikenal dengan Drama Tari Calonarang Tektekan. Drama tari ini biasanya dipenteskan untuk menghibur para wisatawan yang berkunjung ke Puri Kerambitan dan pentaskan pada malam hari. Diawali dengan menampilkan dua buah sekha secara berhadap-hadapan menunjukkan kebolehannya didepan para wisatawan. Lagu yang dibawakan adalah lagu-lagu yang bertempo cepat dengan pola-pola gegilakan yang bergemuruh dipadukan dengan kulkul, ceng-ceng, kopyak, dan okokan sehingga suasana yang ditimbulkan begitu semarak dan bergemuruh. Gending-gending untuk mengeringi pementasan drama Tari Calonarang Tektekan mengambil dari gending-gending bebarongan, penggambuhan, dan penyalonarangan.calonarang 2                  http://balilemuh.blogspot.com/2012/06/kesenian-tektekan.html

   Pada tahun 1965 diresmikan Puri Kerambitan yang berfungsi untuk melestarikan kebudayaan desa Kerambitan sendiri, dan pada saat itulah Tradisi tektekan dipentaskan sebagai penyambutan  untuk para tamu dan masyarakat yang ikut meyaksikan peresmian Puri Kerambitan tidak disangka bahwa Tradisi Tektekan disukai oleh semua orang yang hadir pada acara tersebut. Setalah peresmian selesai, Tradisi Tektekan menjadi bahan perbincangan dikalangan masyarakat sehingga banyak wisatawan yang datang ke Puri Kerambitan, karena itulah Tradisi Tektekan dipentaskan untuk menghibur para wisatawan yang datang ke Puri Kerambitan.

       Dengan diakuinya Tradisi Tektekan sebagai Warisan Budaya Tak Benda  pada tahun 2013  menyebabkan tradisi ini menjadi sangat terkenal dan menjadikan salah satu daya tarik wisata bagi wisatawan yang berkunjung ke Pulau Bali, oleh sebab itu muncullah suatu keinginan dari masyarakat untuk mengembangkan dan mengemas tradisi ini menjadi atraksi budaya yang menarik minat para wisatawan.  Hal ini juga didukung dengan Tradisi Tektekan yang dikemas dengan unik dan menarik, termasuk busananya yang menggunakan warna yang mencolok sehingga mampu menarik perhatian wisatawan, Tradisi Tektekan pernah tampil di depan panggung kehormatan dalam pawai  Pesta Kesenian Bali yang ke38 yang dihadiri oleh Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo. Pementasan kesenian tektekan mirip dengan Gong Bleganjur untuk menyambut kedatangan seorang tamu penting atau mengiringi suatu gerak tari yang berperan sebagai dirigen yang memberikan aba-aba pada permainan alat musik tradisional tersebut. Kesenian tektekan juga dapat dijadikan sebagai sebuah dramatari yang berjudul “Puputan Margarana” yang dipentaskan pada peringatan Perang Puputan Margarana pada setiap tanggal 20 November . Dengan dipentaskannya Tradisi Tektekan di PKB dan Puputan Margarana menyebabkan  Tradisi Tektekan menjadi semakin dikenal orang banyak, sehingga Tradisi Tektekan memiliki peluang besar untuk menjadi daya tarik wisata di Pulau Bali  tepatnya di Desa Kerambitan Kecamatan Tabanan.

        Demikian sekilas informasi tentang Tradisi Tektekan, semoga bermanfaat dan menambah wawasan bagi para pembaca. Kami mohon maaf jika ada kesalahan ejaan dalam penulisan kata dan kalimat yang kurang jelas. Akhir kata  kami ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya.

 

OlehSiska Meiyanti & Perina Rahayu

 

Referensi :

https://www.balitoursclub.net/tektekan-di-kerambitan/

https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbbali/mengurai-asal-mula-tek-tekan-di-desa-kerambitan-tabanan/

 

 

 

 

Nusa Lembongan : Rangkaian Budaya dan Tradisi dalam Modernisasi Internasional

           

fast-boat-tickets-to-lembongan-island-from-sanur-beach-bali-in-kuta-590837
Keindahan di pesisir Pantai Nusa Lembongan

Pariwisata menjadikan industri di era 4.0 untuk lebih maju tentu saja sudah pasti terbukti bahwa pariwisata menjadi tiga bagian dari industri yang berpengaruh di dunia. Berbicara masalah pariwisata budaya.Indonesia menjadi salah satu negara yang kaya akan alam dan budaya .Terkenal karena keunikan yang dimunculkan dari sumber pencahayaan budaya tradisi disetiap kepulauan Indonesia.The thousand temple,Pulau dewata,The Island Of Paradise, dan masih banyak lagi julukan pulau yang memang memiliki keindahan yang tiada tanding bahkan dunia pun sudah mengakui. Pulau Bali,yupss.. semua orang mengenal keindahan dan keunikan di pulau ini.Banyak sekali yang bisa dinikmati dipulai ini mulai dari keindahan laut yang memang tiada tara,keindahan alam pegunungannya hingga tata cara adat kebiasaan masyarakat hindu dipulau seribu pura ini menjadi incaran para traveller diseluruh dunia.

139379812
Ikon Terpopuler Para Instastory yaitu Yellow Bridge berada di Nusa Lembongan

            Bali menjadi tujuan utama untuk berlibur bagi para insan masyarakat dunia setiap tahunnya. Bali berhasil mendatangkan jutaan wisatawan dari berbagai penjuru dunia. Banyak sekali tempat daya taraik wisata hingga daerah di Bali yang pernah mendapatkan pengakuan dunia Internasional. Mulai dari Pantai,Subak di Tegalalang dijadikan warisan dunia oleh UNESCO,Ubud pernah menjadi 10 daftar kota teramah didunia sampai kebudayaan yang lebih dikhususkan yaitu tarian.Ada 9 tarian Bali yang diakui oleh UNESCO sebagai warisan kebudayaan Dunia termasuk tarian Sang Hyang Jaran pada tahun 2015.

            Berbicara masalah kebudayaan memang tidak pernah terlekang oleh agama ,apalagi di Bali yang memang sejak turun temurun leluhur tidak boleh ditentang dan harus disakralkan.Sang Hyang jaran, tarian sakral satu ini memang asing ditelinga para khalayak ramai.Bagaimana tidak, tarian ini bahkan pernah dikatakan hampir punah karena hanya terdapat dipelosok daerah di Bali, yaitu Pulau Nusa lembongan. Tari mempunyai ciri khas tersendiri yaitu tidak memiliki lakon kemudain bersifat sakral yang untuk mengiringi upacara keagamaan dan biasanya pun berlandaskan konsep Panca Gita. Panca Gita adalah lima jenis suara atau bunyi yang mengiringi atau menunjang pelaksanaan yajna. Terdiri dari Mantram, Suara Kidung, Suara Gamelan, Suara Kulkul. Sehingga, dengan konsep Panca Gita menyebabkan tari wali menjadi sesuatu seni tari yang sakral dipentaskan dilingkungan pelinggih-pelinggih pura. Pada saat pementasan tari wali sering berkaitan dengan sifat trans. Artinya sifat trans ialah terjadinya kerauhan yang membuat seni wali pantas memiliki predikat seni tari yang sakral. Selain sifat dan landasan dari ke saklaran tari wali, alat-alat yang dipakai juga harus sakral meliputi bunga, tombak dan canang sari. Konteks pengamatan sakral yang bersifat murni ,komonal, dan tipoksional. Komonal yang berarti berdekatan dengan penonton, pengayah, banyak yang terlibat dalam seni tari wali dan intinya siapapun boleh terlibat. Tipoksional adalah pemerhatian kepada leluhur serta Sang Hyang Widhi Wasa, yang sangat partisipation siapapun bisa terlibat. Mengambil contoh seperti tari kecak,setelah pertunjukan mengiringi Sang Hyang penonton dan penari menjadi satu dan kembali lagi kepada hubungan yang bersifat komunal.

1245588jarann780x390
Salah Satu Ritual Pementasan Tari Sang Hyang Jaran

 

            Sebelum membahas lebih detail lagi mengenai Tarian Sang Hyang Jaran yang masuk daftar tarian sakral dan mendapatkan predikat dari UNESCO.Yuks… kenalan dulu dengan tempat asal mulanya Sang Hyang Jaran.Nusa Lembongan  yang merupakan daftar destinasi pariwisata yang terkenal di Bali.Nusa Lembongan memiliki keunikan secara geografis terdiri dari dua pulau yaitu Pulau Lembongan dan Pulau Ceningan yang terletak didaerah perbukitan dengan ketinggian sekitar 50 meter diatas permukaan laut.Pulau Lembongan atau dalam bahasa bali disebut Nusa Lembongan merupakan sebuah pulau kecil terletak di 8o40.906’LU 115027.067’BT, Koordinat: 8040.906’LU 115027.067’BT. Dengan kondisi wilayah yang dikelilingi oleh laut dan samudra disisi timur laut. Keindahan panorama alam dengan latar belakang bukit dan laut serta dari pandangan yang lepas dari Selat Badung, kehujauan Gunung Agung serta area pantai dengan deburan ombak yang sangat mempesona rupanya memeberi pengaruh karakteristik kehidupan religius,sosial dan budaya,masyarakat.Bagi para wisatawan yang ingin melihat tarian Sang Hyang Jaran pada saat tiba musimnya jangan khawatir.Transportasi menuju Nusa Lembongan sekarang sudah sangat efisien dan harga ekonomis.Berangkat dari Pantai Sanur menggunakan Fast Boat dengan tarif sekitar Rp.75.000 – Rp. 85.000/ orang ,wisatawan sudah bisa berangkat menuju Nusa Lembongan yang memakan waktu 35-45 menit saja. Pasti kalian pada penasaran mengenai ,bagaimana asal mula Nusa Lembongan,mitologi adat istiadatnya,serta kebudayaan tradisi tarian Sang Hyang Jaran.Maka dari itu jangan bosan dulu iya bacanya karena disini bakal mengupas sampai ke akarnya.

            Nusa Penida pada zaman dahulu dipimpin seorang Dukuh. Ia bernama Dukuh Jumpungan. Dukuh Jumpungan adalah ahli dibidang arsitek, kelautan dan dikenal sakti mandraguna. Ia memiliki putra bernama Aji Dalem Sawang yang kelak akan menjadi raja di Nusa Penida.Dalem Sawang memiliki putra I Renggan dan I Renggin.Pangeran Renggan dan Renggin mewarisi kedigjayaan Dukuh Jumpungan khususnya dibidang  ilmu kemaritiman. I Renggan bisa membuat perahu yang bisa membuat daratan yang dilaluinya menjadi lautan. I Renggan memiliki cita-cita ingin menaklukan Pulau Bali dengan perahunya sehingga Bali menjadi lautan. Ia pun mempersiapkan perahu saktinya.Maksud I Renggan ingin menaklukan Bali diketahui Bhatara Toh Langkir. Bhatara Toh Langkir mengeluarkan aji sirep yang membuat Renggan terlelap saat mengemudikan perahu. Karenanya perahu I Renggan melaju tidak terarah dan terdampar menabrak daratan di sekitar Padang Bay Manggis. Menyebabkanterbentuk pulau-pulau kecil yang masih bisa kita jumpai sampai sekarang, seperti Batu Biye. Pada akhirnya I Renggan dipuja di Pura Dalem Padang Bay.       

                Setelah mengalami kegagalan pada misi menaklukan Bali, I Renggan kembali ke Nusa penida. Karena kurang konsentrasi akibat sirep, perahu I Renggan terdampar di semenanjung Suana. Sekarang dikenal dengan Pura Batu Medahu,  yang merupakan Perahu I Renggan menabrak batu.Tetapi Pangeran Renggan tidak patah semangat, ia pun menyiapkan perahu yang lebih hebat dengan pasukan yang begitu banyak demi menaklukan Bali. Lagi – lagi maksud I Renggan diketahui Bhatara Toh Langkir. Bhatara Toh Langkir membuat gelombang  yang besar dengan kutu-kutu yang menyebabkan pandangan I Renggan dan pasukannya terhalangi.Akhirnya pasukan perahu I Renggan tenggelam disebelah barat Nusa Penida.Perahu tersebut membatu dan menjadi Pulau Ceningan sementara layar perahu (bidak) perahu I Renggan membatu menjadi Pulau Lembongan dan Jungut Batu sampai saat ini.Akibat hal tersebut terjadi Dalem Sawang sedih dan marah atas tenggelam putranya  dan pasukan I Renggan menjadi Wong Samar yang ingin memangsa masyarakat Bali daratan. Begitulah tadi legenda asal mula Nusa Lembongan yang dapat disampaikan.Tentunya legenda asal mula Nusa Lembongan bisa menjadi patokan lintasan pengetahuan yang patut diketahui masyarakat.Setiap tahunnya Nusa Lembongan sendiri memiliki cara unik untuk mengenang legenda asal mula Nusa Lembongan seperti diadakannya touring mengelilingi pulau ceningan dan lembongan bertajuk Cyling Tour pada festival Nusa Penida tahun 2015.

            Mitologi di Nusa Lembongan dinyatakan bahwa hampir semua masyarakat Nusa Lembongan tidak mengenal sistem kasta atau catur warna, semua berasal dari kaum sudra, dengan pembagian warga dadia/sentana berasal dari Pasek, Bendesa Manik Mas, Kuta Waringin, Tangkas, Tutuan dan masih banyak lagi.Banyak sekali kebudayaan yang memang belum sepenuhnya diketahui khalayak ramai yang terdapat di Nusa Lembongan, terkenal bukan dari pemandangan dan keramahan masyarakat sekitar saja tetapi kebudayaan yang menjadi transeter kehidupan adat istiadat sekitar.

            Sebelum menjurus kepada pembahasan tujun utama yaitu tarian Sang Hyang Jaran. keunikan di Nusa Lembongan dapat diambil dari keunikan upacara dan tradisi.Upacara dan tradisi, upacara dan tradisi di Desa Lembongan hampir sama dengan di Kota Denpasar seperti pujawali, tradisi ngaben dan lain-lain namun ada beberapa tradisi yang hanya ada di Nusa Lembongan dan ini menjadi keunikan tersendiri.

nyepi-segara-di-nusa-penida-1
Situasi Kondisi Pada Saat Pelaksanaan Nyepi Laut

            Tradisi Nyepi Laut hanya ada di Desa Lembongan dengan maksud dan tujuan untuk menghormati Dewa Bharuna.Keunikan tradisi nyepi laut, yang hanya dilaksanakan setiap purnama kapat bulan Oktober setiap tahunnya,nyepi laut hanya dilaksanakan di Desa Nusa Lembongan saja,sebelum nyepi laut dilaksanakan masyarakat Nusa Lembongan mengadakan upacara pakelem terlebih dahulu, adapun yang ditenggelamkan adalah sarana upacara antara lain banten dan hewan ( bebek & ayam ), nyepi laut berarti menonaktifkan segala kegiatan di laut dan nyepi ini hanya dilaksanakan satu hari.Tradisi Ngaben di Nusa Lembongan dilaksanakan secara rombonganatau masal. Adapun tujuan pelaksanaan ngaben masal di Nusa Lembongan demi menghemat biaya yang dikeluarkan selain itu ngabensecara rombongan atau masal juga dapat meningkatkan ekstitensi rasa persaudaraan yang dalam istilah Bali disebut “Menyame Braya” dimana dalam hal ini bisa membantu satu sama lain.

            Setelah membahas berbagai keunikan budaya yang ada di Nusa Lembongan, dilanjutkan dengan pembahasan topik utama yaitu tarian Sang Hyang Jaran.Mengawali mitologi Tarian Sang Hyang Jaran dijelaskan berdasarkan hasil pengamatan pengetahuan salah satu lontar. Tari klasik Sang Hyang Jaran merupakan salah satu peninggalan kebudayaan dari Ida Pedanda Gede Punia dari Geria Bangli, yang pada jaman dahulu diselong (dibuang ) ke Nusa Lembongan desa Jungut Batu oleh Raja Bangli yang berkuasa. Pada saat itu yang jadi Jero Mekel ( Perbekel ) ialah I Nyoman Jungut, dengan wakilnya I Wayan Batu, yang pada akhirnya Desa yang dipimpinnya pada masa itu bernama Desa Jungut Batu. Setelah memisahkan diri dari Desa Jungut Batu. Pada waktu itu dibuang ke Desa Jungut Batu terjadi pada tahun1894. Bertahun – tahun Ida Pedanda Gede Punia tinggal dirumah perbekel I Nyoman Jungut selama 6 tahun lamanya, yang pada akhirnya “Kelebu” ( ditenggelamkan hidup – hidup ), diatas perintah Raja Bangli, dengan diberi pemberat pasir 1 karung, Ida Pedanda kelebu suami istri.Sedangkan putra-putranya tidak diikutkan. Pesan beliau kepada I Nyoman Jungut selaku perbekel dan tuan rumah, agar taria sakral Sang Hyang Jaran jangan sampai dilupakan ataupun sampai punah.

Tari-Sanghyang-Jaran
Tarian Sang Hyang Jaran biasanya diiringi dengan nyanyian yang berulang – ulang layaknya Janger

            Sedikit informasi bagi kalian para pembaca berdasarkan penelitian tahun 1992 di Sekolah Tinggi Seni Indonesia Denpasar yang sekarang bernama ISI, pernah mengadakan penelitian bersama badan penelitian dari Udayana.  Menghasilkan data nyata bahwa 70% orang-orang yang berkesenian lebih termotivasi karena agama dan 30% untuk kepentingan lain-lain seperti hal nya tontonan tarian sakral Sang Hyang Jaran. Maka dari itu tarian Sang Hyang Jaran selalu dipentaskan bersamaan dengan upaca agama di Nusa Lembongan dan dilakukan di area pura atau dalam istilah bali disebut Utama Mandala ( Jeroan Pura ). Mengenai konsep sistem tarian Sang Hyang Jaran yang teridiri dari dua kuda yaitu merah dan putih. Bagian warna merah disebut sebagai Nala Sanda dan yang putih disebut Once Srawa. Kuda putih Once Srawa sejatinya adalah tunggangan ( kendaraan ) dari Dewa Ciwa. Biasanya orang yang menarikan Sang Hyang Jaran adalah orang yang mengalami kesurupan ( trance ). Pelaksanaan tarian Sang Hyang Jaran mengalami beberapa tahap fase, diawali dengan fase ngukup ( membuat trance ), fase menunggang kuda, fase ninjak geni ( menabrak dan menginjak api ), fase mesolah ( menari dengan gambelan ) dan fase ngingetang ( pengembalian kesadaran ). Pada umumnya tarian Sang Hyang Jaran  berkisah tentang Dewa Ciwa menyuruh pepatihnya mencari air suci ke sorga, dengan menunggang kuda putih yang bernama Once Srawa. Setelah lama mencari, tapi air suci tak kunjung didapat, akhirnya idalam perjalanan kuda putih Once Srawa yang ditunggangi melihat api unggun yang dibuat oleh seorang bocah kurus, lalu api tersebut ditabrak oleh kuda putih Once Srawa, sehingga api tersebut tercerai berai.

CiYosljUYAAFYIY
Keadaan Trance Menjadi Salah Satu Bagian Penting dalam Pelaksanaan Tarian Sang Hyang Jaran

            Tari Sang Hyang Jaran yang memang merupakan bagian dari tarian bebali dan terdaftar sebagai salah satu warisan budaya dunia tak benda, mempunyai fungsi sebagai pelengkap upacara untuk mengusir wabah penyakit yang sedang melanda suatu desa atau daerah. Selain itu juga untuk mengusir wabah penyakit, tarian Sang Hyang Jaran menjadi salah satu konteks lintasan pelindung terhadap ancaman dari kekuatan magic ( black magic ). Menjadikan tarian Sang Hyang jaran sebagai sisa – sisa kebudayaan pra-Hindu yang ditarikan oleh 2 gadis yang masih kecil ( belum dewasa ), tetapi akibat terjadinya evolusi jaman tarian Sang Hyang Jaran mulai ditarikan oleh orang dewasa terutama bapak – bapak. Hal tersebut terjadi dikarenakan melihat dari sistem lakon tari. Sebelum menarikan tarian Sang Hyang Jaran calon penari harus menjalankan beberapa pantangan seperti calon penari tidak boleh lewat dibawah jemuran pakaian, tidak boleh berkata jorok dan kasar serta tidak boleh berbohong apalagi mencuri.

            Setelah membaca informasi pengetahuan tentang keseluruhan pariwisata yang berbasis kebudayaan di Nusa Lembongan diharapkan bagi kalian agen perubahan untuk selalu mempertahankan nilai-nilai tradisi budaya yang memang diharuskan untuk tetap lestari. Budaya memang tidak abadi dan tanpa kita sadari selalu mengalami evolusi, tetapi tidak salah kita sebagai masyarakat yang kental akan adat istiadat dan tradisi untuk berusaha tetap menjaga keajegan kebudayaan. Karena sekeras apapun digital ini berusaha menggerus budaya di Nusantara namun apabila kita selalu mengiringinya dengan agama maka budaya tidak akan pernah lekang oleh waktu.

Iswara dan Achi ( Sri Jayati )

Daftar Pustaka

Tim Kersos.2017. Nusa Lembongan “ Jejak Siwa Budha Nusantara”.Denpasar : Universitas Mahendradatta Bali

Wawancara Prof.Dr. I Made Bandem, M.A.15 Oktober 2018. Pukul 16.33 WITA

 

          

       

FAKTOR PERMASALAHAN DI PANTAI MENJADI PENGARUH PARIWISATA

Dari namanya BATU yang artinya batu(sama saja) dan BELIG(Bahasa bali) yang artinya licin, mungkin kita akan mengira bahwa di pantai ini banyak batu dan batunya licin. Namun itu semua salah besar, awalnya saya mengira juga seperti itu tetapi dugaan saya salah. Saya sendiri juga kurang tau kenapa pantai ini dikatakan seperti itu.

Nah, blog ini saya dan teman saya buat itu ada maksud tertentunya pasti, kenapa? Yaa sebenarnya karena baru-baru ini ada sesuatu hal yang terjadi di pantai ini.


Pantai ini adalah salah satu pantai yang indah di daerah canggu menurut saya dan teman saya, dari beberapa pantai yang saya tau sebelumnya di daerah canggu ini yaitu pantai berawa, pantai batu bolong dan sekarang pantai batu belig. Jujur saja sederetan pantai dari seminyak sampai canggu ini adalah pantai yang indah terutama karena pemandangan sunset nya di sore hari.

Nah langsung ke poinnya saja,baru-baru ini terjadi kabar yang mengejutkan datang dari pantai batu beli ini, kalau tidak salah sekitar bulan September kemarin tepatnya saat air ombak di pantai batu belig besar, terjadi peristiwa yang sangat mengejutkan yaitu salah satu tamu local meninggal dunia. Kabar ini saya ketahui dari teman saya yang kebetulan kejadian ini terjadi di depan tempat saya bekerja namun saat itu teman saya yang melihat langsung kejadian ini.

 Hal ini berawal dari 2 orang tamu yang satu bule dan satunya lokal sedang asik mandi di pantai, padahal saat itu sudah diberi peringatan bahwa dilarang berenang karena kondisi ombak yang tidak bagus, bukan hanya mereka tetapi banyak juga tamu-tamu luar yang sedang berenang. Lalu, saat kedua tamu itu sedang asik berenang tiba-tiba ombak semakin besar yang kemudian menyeret mereka berdua. Kesempatan baik masih diterima oleh tamu bule karena bule itu masih sempat dilarikan ke rumah sakit, namun tidak untuk tamu local, karena kehabisan nafas saat menyelamatkan diri tamu local itu meninggal di tempat. Banyak bule lain yang berusaha menyelamatkannya hingga penjaga pantai sudah memanggil bantuan medis, namun Tuhan sudah berkehendak dan tamu local itu benar-benar tidak dapat diselamatkan dengan kondisi wajah yang sudah berwarna ungu.

Namun kejadian ini tidak berdampak buruk untuk berkunjung ke pantai ini, karena setelah kejadian tersebut di pantai ini masih saja dipadati wisatawan, namun kini setelah diperingati oleh penjaga pantai untuk tidak berenang para wisatawan sudah mengerti.

Setelah beberapa bulan kejadian itu berlalu, kembali terjadi hal di pantai ini namun tidak mengenai korban meninggal dunia, melainkan mengenai sampah. November kemarin daerah canggu diguyur hujan ringan. Dan tepat pada tanggal 19 November 2018 pantai batu belig ini didatangi oleh banyak sampah, entah darimana sampah itu berasal, mulai dari sampah plastik, kayu, kertas hingga daun(canang), tetapi yang lebih bnyak adalah sampah plastik sisa-sisa makanan. Hal ini terjadi mungkin karena wisatawan yang sering membawa makanan ke daerah pantai namun setelah selesai makan sampahnya dibiarkan begitu saja. Tetapi untuk kejadian kali ini sampah itu bukan berasal dari pantai batu belig itu sendiri melainkan sampah itu hanyut terbawa air laut yang kemudian terdampar di pantai batu belig.

Saat kejadian ini wisatawan yang berkunjung ke pantai batu belig menurun drastis, para owner sunbed(kursi untuk berjemur) tidak mendapatkan pelanggan, itu karena sampah itu berbau tidak sedap. Saya sendiri pun yang bekerja dekat pantai itu tidak kuat dengan aroma sampah itu. Sampah itu tidak hanya ada di depan tempat saya berkerja, tetapi dari pantai petitenget hingga pantai berawa. Tetapi tidak usah khawatir karena di daerah canggu ini sudah terdapat komunitas “four ocean” atau pembersih pantai. Dengan kesadaran warga sekitar dan para wisatan juga banyak yang membantu untuk membersihkan pantai tersebut.

Kejadian sampah ini berlangsung hanya 2 hari hingga tanggal 20 November 2018, ada musim memang banyak sampah yang datang ke daerah pantai ini, namun kali ini entah darimana dan mengapa sampah plastik ini terdapat dan terdampar di daerah pantai ini. “ kata Pak Alus”  Selain itu juga ada wisatawan yang memang sudah memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan pantai, salah satunya wisatawan mau memungut pecahat kaca dan juga mengambil sampah plastic yang ada di sekitar pantai. Ada juga wisatawan yang mengatakan “my son get knowledge in his school for take rubbish and put in the basket rubbish, and not plastic in the land” atau “ anak saya mendapat pengetahuan di sekolahnya untuk mengambil sampah dan buang pada tempatnya dan tidak ada plastic di daratan”. Seharusnya semua wisatawan memiliki kesadaran seperti itu agar kita bias bersama-sama menjaga kebersihan pantai. Bukan hanya di pantai saja tetapi di tempat lain juga.

Karena penghambat pariwisata banyaknya sampah di derah pantai yang menjadi daerah tujuan wisata dapat menganggu wisatawan dan mengacu terhadap perkembangan pariwisata maka kita sebagai masyarakat local harus ikut serta dalam menjaga kebersihan dimana pun kita berada terutama di daerah tujuan wisata. Itu bertujuan agar perkembangan pariwisata terutama pariwisata di bali dapat terus terjaga baik fasilitas, kenyamanan dan kebersihannya. Hal ini dapat pula kita ajarkan pada generasi-generasi muda agar tidak hanya terpengaruhi oleh perkembangan jaman tetapi harus terus memajukan Bali sebagai tujuan wisata dunia.

Jadi sampah adalah faktor pertama penghambat pariwisata.

Kembali lagi pada pantai batu belig, setelah kondisi sampah yang terjadi, saya sendiripun melihat langsung bagaimana wisatawan luar yang ikut serta dalam melakukan pembersihan pantai, saya sendiri pun merasa malu karena kesadaran saya sangat kurang, tetapi dari hal itu saya dan rekan kerja lainnya pun ikut turun langsung membersihkan sampah itu, walaupun hanya sebentar karena saya sedang bekerja jadi tidak mungkin saya focus untuk membersihkan sampah itu dan meninggalkan pekerjaan saya. Setelah 2 hari berlalu di hari selanjutnya pantai mulai tenang kembali dengan keadaannya yang bersih serta ombak yang tenang, dan wisatawan yang datang pun normal kembali, namun tidak terlalu ramai seperti bulan sebelumnya.

Beberapa hari kemudian pantai batu belig di guyur hujan, karena memang pada bulan November adalah musim hujan. Dengan cuaca yang tak menentu seperti ini, kondisi wisatawan pantai batu belig kembali menurun drastis dan mulai sepi kembali, itu mungkin karena wisatawan malas untuk keluar karena cuaca hujan. Kondisi ini terjadi sekitar seminggu, dengan kondisi yang sepi hingga para owner-owner pemilik warung pinggir pantai batu belig merasa sangat pusing dengan kondisi seperti ini, itu karena berkurangnya wisatawan yang berkunjung membuat omset mereka turun drastis pula.

Jadi kondisi cuaca juga merupakan faktor penghambat pariwisata.

Jikakalian ketahui dan kalian berkunjung ke pantai batu belig ini, apalagi saatsore hari kalian akan dimanjakan oleh indahnya pemandangan sunset yang berwarnaorange kemerahan, itu juga menjadi tujuan kita untuk mengambil foto danmengabadikannya.

Tetapi kini kondisi sederetan pantai dari pantai petitenget, pantai batu belig hingga pantai berawa sudah mulai normal kembali, dan wisatawan yang berkunjung sudah mulai berdatangan kembali. Apalagi sebentar lagi kita akan menyambut pesta tahun baru ini merupakan kesempatan besar bagi restoran kecil dekat pantai untuk mendapatkan omset mereka kembali.

Dan dari saya sendiri yang bekerja di daerah pantai batu belig ini selalu berharap agar kita semua selalu dapat menjaga kebersihan, dan sedikit slogan untuk di pantai.

 “what happens at the Beach, stay at the Beach”

Oleh : Desi dan Devia

Tradisi Sedekah bumi warga Desa Linggo Asri, Kabupaten Pekalongan

        esa

          Sedekah bumi adalah suatu tradisi yang ada di pulau jawa yaitu bentuk syukur atas berkat tuhan yang maha esa karna telah memberikan kesuburan atas hasil bertani melimpah maupun usaha dan biasanya sebagai tolak balak bencana yang berkaitan dengan keharmonisan desa . Sedekah bumi ini dilaksakan setiap awal bulan sura/muharam. Pelasanaanya sendiri yaitu dipinggir jalan tepatnya dipertigaan pertigaan gang masuk desa dan adapun pelaksanaanya ada dibalaidesa atau lapangan terbuka seperti lapangan.  Nah kali ini saya akan mendeskripsikan tentang sedekah bumi yang ada di kampungku sendiri yaitu kampung Linggo Asri tepanya di Kecamatan Kajen Kabupaten Pekalongan Provinsi Jawa Tengan.

             Disuatu wilayah yang ada dipulau jawa sedekah bumi memiliki beberapa arti tapi memiliki satu makna dan didesa linggo asri ini mempunyai arti yaitu sebagai bentuk rasa syukur terhadap tuhan yang maha esa karna telah memberi berkah melimpah dari alam dan sebagai kegiatan silahturahmi antar warga , karna dalam pelaksanaan sedekah bumi ini setiap warga dihimbau untuk membuat Sesajen yang penting dalam tradisi ini adalah bubur sura dan Hasil bumi untuk dimakan dan dikuburkan. Bubur sura dibuat dari berbagai biji-bijian, yang hanya boleh dimasak dalam kendi kuali dari tanah. Berbagai jenis hasil bumi, mulai dari biji-bijian, umbi-umbian dan sayuran dan buah, akan dikeluarkan pada acara tersebut dan dimakan bersama-sama.

          Dalam pelaksanaanya sedekah bumi dimpin oleh sesepuh desa untuk mengaturkan doa atas hasil panen yang melimpah , dalam pelaksanaanya yaitu setiap KK [kartu keluarga] harus membawa sesaji yang dianjurkan dan diwakilkan oleh satu anggota keluarga , kemudian setiap orang duduk melingkar dan ditengahnya itu diisi tempat untuk sesajinya kemudian bersamaan sesepuh desa mulai mengaturkan doanya dalam mengaturkan doa setiap warga dianjurkan ikut berdoa menurut keyakinan masing masing karena dalam satu desa itu tidak hanya satu kenyakinan yaitu agama hindu dan islam dan pengantar doa untuk para warga dipimpin bagi agama hindu yaitu mangku dan bagi agama islam yaitu syekh dan kebetulan sekali saya  sendiri mewakili  keluargaku  sendiri  untuk melaksanakan sedekah bumi  itu  saya melihat orang orang membawa sesaji yang isinya bubur,biji bijian  maupun hasil  panen yang  ditanam  oleh warga desa linggo asri semua orang mulai merapat  dan duduk melingkar warga warga antusias mendengarkan  makna  diadakannya sedekah  bumi ini  sayapun  mendengarkan  apa  yang yang  dibicara kan oleh  sesepuh desa , melihat warga secara bersamaan  mengaturkan  doa  saya  pun ikut mengucap  kan desa semoga desa kami selalu  biderikan kesuburan maupun  keharmonisan dalam  kehidupan  sehari  hari hari atas kepercayaan masing masing.

          Sebenarnya ritual upacara sedekah bumi sudah lama dikenal bangsa indonesia jauh sebelum mencapai kemerdekaan dengan mendirikan negara republik indonesia.Sebelum agama islam masuk ke tanah air,waktu itu belum muncul nama indonesia, sebagian penduduk berpegang pada kepercayaan lama. Sebagian yang lain memeluk agama hindu dan buddha. Mereka mempercayai adanya kekuatan supernatural yang mengusai alam semesta, berupa dewa-dewa dan upacara-upacara yang dimaksudkan untuk memuja dewa laut dan dewa bumi dibiarkannya tetap berjalan. Kedatangan agama islam ke nusantara dibawa oleh para mubaligh yang dalam menyiarkan agamanya mereka tidak secara drastis mengadakan perubahan terhadap kepercayaan dan adat istiadat lama, melainkan sampai batas-batas tertentu, memberikan toleransi, membiarkannya tetap berlangsung dengan mengadakan modifikasi-modifikasi seperlunya. di antaranya ada dewa yang mengusai lautan [baruna], dan menguasai bumi [pertiwi]. Sebagai ungkapan rasa syukur dan pemujaan kepada dewa-dewa tersebut, mereka mengadakan upacara-upacara [ritua] dengan membaca mantra-mantra dan mempersembahkan sesaji. Tujuannya agar para dewa memelihara keselamatan penduduk, menjauhkan mereka dari malapetaka, dan melimpahkan kesejahteraan, berupa meningkatnya jumlah ikan di laut dan hasil pertanian di darat.

           Pada masyarakat jawa, memang terkenal dengan beragam jenis tradisi budaya yang di ada di dalamnya. Baik tradisi kultural yang bersifat harian, bulanan hingga yang bersifat tahunan, semuanya ada dalam tradisi budaya jawa tanpa terkecuali. Dan yang saya tuliskan tersebut yaitu tradisi tahunan Dari beragam macamnya tradisi yang ada di masyarakat jawa, hingga sangat sulit untuk mendeteksi serta menjelaskan secara rinci terkait dengan jumlah tradisi kebudayaan yang ada dalam masyarakat jawa tersebut. Salah satu tradisi masyarakat jawa yang hingga sampai sekarang masih tetap eksis dilaksanakan dan sudah mendarah daging serta menjadi rutinitas bagi masyarakat jawa pada setiap tahunnya adalah sedekah bumi.

          Ritual sedekah bumi yang sudah menjadi rutinitas bagi masyarakat jawa ini merupakan salah satu jalan dan sebagai simbol penghormatan manusia terhadap tanah yang menjadi sumber kehidupan. Manurut cerita dari para nenek moyang orang jawa terdahulu, ya kita mengetahui sedikit tentang kebudayaan taan air kita sendiri yang dari dulu dan karna nenek moyang yang sangat luar biasa  Tanah itu merupakan pahlawan yang sangat besar bagi kehidupan manusia di muka bumi. Maka dari itu tanah harus diberi penghargaan yang layak dan besar. Dan ritual sedekah bumi inilah yang menurut mereka sebagai salah satu simbol yang paling dominan bagi masyarakat jawa khususnya para petani dan para nelayan untuk menunjukan rasa cinta kasih sayang dan sebagai penghargaan manusia atas bumi yang telah memberi kehidupan bagi manusia. Sehingga dengan begitu maka tanah yang dipijak tidak akan pernah marah seperti tanah longsor dan banjir dan bisa bersahabat bersandingan dengan masyarakat yang menempatinya dan intinya adalah sebagai hubungan antar manusia dengan alam.

         Selain itu, Sedekah bumi dalam tradisi masyarakat jawa juga merupakan salah satu bentuk untuk menuangkan serta mencurahkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas nikmat dan berkah yang telah diberikannya sehingga,seluruh masyarakat jawa bisa menikmatinya. Sedekah bumi pada umumnya dilakukan sesaat setelah masyarakat yang mayoritas masyarakat agraris menuai panen raya. Sebab tradisi sedekah bumi hanya berlaku bagi mereka yang kebanyakan masyarakat agraris dan dalam memenuhi kebutuhannya dengan bercocok tanam.

            Pada zaman dahulu, upacara khormat bumi merupakan sarana pemujaan kepada nenek moyang dan sekaligus pemujaan kepada Dewi Sri (Dewa Kesuburan menurut mitologi agama Hindu) agar masyarakat dijaga dari hal-hal yang tidak diinginkan dan tanaman diberi kesuburan. Kini, hakekat upacara sedekah bumi adalah usaha bersama masyarakat memohon kepada sang pencipta agar selalu diberi keselamatan dan dijauhkan dari bencana serta selalu diberi kesejahteraan karena itu,sebagian masyarakat masih ada yang memiliki kepercayaan bahwa nasi hajatan memiliki berkah, sehingga ketika  nasi hajatan dibawa pulang akan digunakan sebagai pupuk tanaman dengan harapan tanaman tumbuh subur dan menghasilkan panen yang melimpah Pelestarian tradisi ini akan menjadikan kehidupan masyarakat dapat menghormati tradisi leluhur dan tetap akan melestarikannya, dan intinya sebagai manusia kita semuaq harus tetap selalu bersyukur atas kenikmatan dan kerahayuan yang diberikan sang pencipta tuhan yang maha kuasa.

 

Referensi :

http://media1.picsearch.com/is?okbO37uGSod56_ojot9RpFHrHIjPB64PnT1FuNiL5HQ&height=160

Oleh : Esa Cahyaning Bhatara

 

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai